WEDUPRO- Website Edukasi Professor

The emergence of electromobility: Comparing technological pathways in France, Germany, China and India

Globally, new forms of electromobility are challenging established transport technologies based on internal combustion engines. We explore how this transition is simultaneously unfolding in four countries, enabling us to shed some light on the dynamics and determinants of technological path creation. Our analysis covers two old industrialized countries (France and Germany) and two newly industrialized countries (China and India) with very different market conditions and policy frameworks. It reveals enormously different choices of technologies and business models and traces them back to four main drivers of divergence: technological capabilities, demand conditions, political priorities and economic governance.

Comparing the knowledge bases of wind turbine firms in Asia and Europe: Patent trajectories, networks, and globalisation

This study uses patent analyses to compare the knowledge bases of leading wind turbine firms in Asia and Europe. It concentrates on the following three aspects: the trajectories of key technologies, external knowledge networks, and the globalisation of knowledge application. Our analyses suggest that the knowledge bases differ significantly between leading wind turbine firms in Europe and Asia. Europe’s leading firms have broader and deeper knowledge bases than their Asian counterparts. In contrast, the leading Chinese firms, with their unidirectional knowledge networks, are highly domestic in orientation with respect to the application of new knowledge. However, Suzlon, the leading Indian firm, has a better knowledge position. While our quantitative analysis validates prior qualitative studies it also brings new insights. The study suggests that European firms are still leaders in this industry, and leading Asian firms are unlikely to create new pathways that will disrupt the incumbents in the near future.

Merubah Kesumba Menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Surya

Pontianak, thetanjungpuratimes.com-Kesumba adalah tumbuhan liar yang bernama latin Bixa Orellana yang biasa juga disebut rambutan hutan. Dahulu biji kesumba ini dimanfaatkan sebagai mainan untuk membuat kuku menjadi berwarna. Namun sekarang buah ini dijadikan sebagai bahan untuk pembangkit listrik tenaga surya.

Mulai meneliti tanaman kesumba, saat melihat tumbuhan tersebut banyak tumbuh di sekitar kampus Untan yang tidak digunakan.

Tumbuhan tersebut adalah tumbuhan liar jadi tidak digunakan, tanaman tersebut hanya digunakan sebagai kuteks, ternyata tanaman tersebut memiliki pigmen warna yang bagus.

Kesumba mengandung pigmen warna yang disebut bixin, biji kesumba ini dijadikan bahan untuk membuat sel surya sebagai  pembangkit listrik tenaga surya.

Pada awalnya kusumba bukan sebagai sel surya melainkan sebagai sinar UV-protector atau pelindung sinar ultraviolet.

Dalam riset awal sebelumnya mendapatkan bahwa prinsip kusumba sebagai pelindung ultraviolet untuk kulit, bahwa kusumba tersebutlah yang menyerap sinar ultraviolet tersebut bukannya kulit, artinya pigmen biji kusumba ini dapat menyerap sinar ultraviolet.

Dari situlah mulai meneliti kusumba sebagai bahan sel surya atau pembangkit listrik tenaga surya. Tahun 2012, saat mendapatkan beasiswa untuk mendapatkan gelar doktor di Prancis, riset kusumba dilanjutkan, karena dirasa pada riset sebelumnya hasilnya kurang memuaskan. Dalam riset selanjutnya biji kusumba hanya mampu bertahan selama satu hari, dan pada riset terbarunya sel surya dari biji kusumba ini dapat bertahan selama sepuluh hari.

Proses untuk membuat sel surya dari biji kesumba ini, yaitu melalui beberapa tahap, yang pertama adalah tahap pemurnian dan karakteristik yang kurang lebih memakan waktu empat bulan yang kemudian dilanjutkan ke tahap berikutnya.

Biji kesumba diekstraksi dimurnikan sampai 100% yang kemudian hasil pemurnian tersebutlah yang digunakan sebagai bahan pentik dalam sel surya tersebut. Selain biji kusumba ini ada juga bahan lain yang dipakai, antara lain tanah lempung dan limbah kelapa sawit yang kemudian dijadikan suatu sistem.

Dalam satu sistem tersebut ada yang  menyerap energi , mentransfer energi, dan ada yang meregenerasi energi tersebut. Sistem inilah yang mampu membuat sel surya ini dapat bertahan hinggal sepuluh hari. Bahan-bahan dan sistem sel surya inilah yang nantinya akan dipatenkan.

Aplikasinya satu sel ukuran 1 cm x 0.5 cm bisa menghidupkan satu lampu yang membutuhkan beberapa sel surya. Untuk menghidupkan lima watt lampu membutuhkan 1000 sel surya.

Tujuan meneliti kusumba ini adalah untuk memanfaatkan sumber daya yang ada di equator ini, dengan biji kesumba yang banyak hidup di daerah tropis. Terkait pematenan terhadap penelitian, sudah didaftarkan di Prancis, jadi hak paten yang akan didapat adalah hak paten Internasional.

Saat ini tumbuhan kesumba adalah tumbuhan yang langka, namun buah kesumba tersebut mudah tumbuh dan mudah berbuah, setiap tiga bulan sekali sudah dapat dipanen.

Oleh : Dr Winda Rahmalia

Dosen Kimia Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura Pontianak

(Matilda/Muhammad)

Kemenristekdikti dan EU-Indonesia TCF Gelar Workshop STP dan TTO

Dalam rangka memperkuat strategi program hilirisasi dan komersialisasi berbagai hasil inovasi, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) bersama The EU-Indonesia Trade Cooperation Facility (TCF) mengadakan Workshop STPs and TTOs – Effective Implementation Methods pada Selasa (25/10). Kegiatan yang diselenggarakan di Double Tree Hilton Hotel ini merupakan tindak lanjut hasil mentoring dan pelatihan Science and Technology Park (STP) dan Technology Transfer Office (TTO) yang sebelumnya telah diadakan The EU-Indonesia TCF kepada lima universitas di Indonesia, yakni Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Gajah Mada, dan Universitas Hasanuddin.

Tidak hanya dihadiri oleh peserta dari lingkungan Kemenristekdikti, workshop yang difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi dan Direktorat Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Kemenristekdikti ini, diikuti pula oleh perwakilan dari STP, universitas, Kementerian Perindustrian, LIPI, dan BPPT. Beberapa topik mengenai STP yang dibahas dalam workshop ini antara lain tentang pengembangan dan implementasi instrumen kebijakan, perencanaan STP, implementasi STP, hingga monitoring dan evaluasi STP. Sementara topik mengenai TTO yang dibahas antara lain tentang unsur-unsur atau prasyarat TTO yang sukses, pengaturan dan penyiapan TTO, proses bisnis yang ideal, hingga monitoring dan pengukuran output TTO.

Workshop yang diawali dengan lesson learned program STP dan TTO yang dilakukan oleh The EU-Indonesia TCF ini, dilanjutkan dengan pembahasan mengenai usulan guidelines mengenai implementasi STP dan TTO di Indonesian yang diinisiasi oleh The EU-Indonesia TCF. Beberapa masukan yang nantinya akan digunakan untuk menyempurnakan draft pedoman kebijakan dan implementasi STP serta pengaturan TTO di Indonesia ini, antara lain mengenai perlunya indikator khusus STP, kriteria keberhasilan dan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung program STP, dukungan kuantitatif data untuk TTO, juga petunjuk teknis dalam mendesain metode technology assessment TTO.

The EU-Indonesia TCF sendiri merupakan sebuah program empat tahun yang telah dimulai sejak tahun 2013, didanai oleh Uni Eropa dan dilaksanakan oleh suatu konsorsium internasional. Tujuan dari program ini adalah untuk memperkuat kapasitas lembaga pemerintah dalam mengembangkan iklim perdagangan dan investasi di Indonesia, serta memberikan kontribusi kepada pembangunan ekonomi jangka panjang yang berkelanjutan. (PSP)

Butuh Bantuan Pindahkan Barang? Ajak PRIMo

Surabaya- Politeknik Elektronik Negeri Surabaya (PENS) berhasil menciptakan robot baru pemindah barang yang bahan bakunya dibuat secara mandiri oleh PENS.

Robot baru yang dinamakan PENS Robot Intellegent Mover (PRIMo) ini digunakan untuk memindahkan barang-barang/bahan baku hasil produksi dari satu tempat ke tempat lain.

PRIMo yang bergerak secara otomatis dan kecepatan jalannya dapat diatur ini dapat menampung beban hingga 600 Kilogram untuk pemindahan barang.

Ditemui di sela acara Serah Terima Hasil Produk Inovasi PENS “KIPENSA dan PRIMo” dari Menristekdikti kepada Industri PT. CNE dan PT. JAI, jumat (28/10) di gedung pascasarjana PENS, Menristekdikti Mohamad Nasir mengatakan sangat bangga dengan hasil produk PENS tersebut karena material pembuatannya dilakukan oleh PENS dan produknya diterima oleh industri.

Nasir juga katakan bahwa ini merupakan salah satu program berhasil dari Pemerintah.

“Dengan produk-produk seperti ini, program Revitalisasi Politeknik yang dicanangkan Pemerintah sudah mulai berhasil. Karena saat ini kami memang sedang menggenjot 12 Politeknik Negeri untuk direvitalisasi,” ucap Nasir yang didampingi Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh.

Pada kesempatan yang sama Nasir juga meninjau proses perakitan Kapal yang dibuat oleh Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) yang juga sudah banyak menghasilkan kapal-kapal laut dari bahan alumunium, dan beberapa bahan produknya sudah dipakai oleh para Nelayan maupun industri eksplorasi minyak.

“Majukan terus produk-produk kapal ini, saya sangat mendukung karena ini sebagai program dukungan untuk kemaritiman, dan yang paling penting segala sertifikasinya segera dilengkapi, sehingga industri dapat menangkap lebih cepat dan antar pulau di Indonesia dapat terhubung dengan baik,” ujar Nasir.

Nasir mengatakan untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa juga sekarang dikembangkan terus pola 3-2-1. 3 semester di kampus, 2 semester di industri dan 1 semester untuk tugas akhir.

“Dengan pola itu, kompetensi lulusan politeknik akan sangat bertambah, dan cepat diserap oleh industri yang membutuhkan, atau menjadi entrepeneur unggul,” pungkas Nasir. (DZI)

Metode Teaching Factory, Ciptakan Lulusan Siap Kerja

SURABAYA – Sudah tahu tentang Teaching Factory? Teaching Factory adalah salah satu metode pembelajaran khusus yang dipakai oleh beragam Perguruan Tinggi terutama Politeknik dan Akademi Komunitas, tidak hanya di Indonesia namun juga dunia.

Metode ini sekarang sudah banyak diterapkan di hampir semua Politeknik di Indonesia. Salah satu Politeknik yang menerapkannya adalah Politeknik Elektronik Negeri Surabaya (PENS).

PENS memiliki laboratorium khusus dimana laboratorium tersebut sudah didesain dan dirancang sesuai dengan desain proses produksi di industri. Dengan kata lain memindahkan industri/pabrik ke kampus. Salah satu teaching factory di PENS adalah teaching Factory pembuatan Printed Circuit Board (PCB), komponen dasar elektronik dan 3D Printer.

Ditemui di kampus PENS, kamis (27/10), Taufik, Dosen Elektronika PENS menjelaskan bahwa metode teaching factory ini bermanfaat besar bagi kompetensi mahasiswa. Lulusan akan menjadi terbiasa dengan keadaan produksi industri.

“Teaching Factory ini ada sebenarnya untuk menjembatani keinginan industri yang ingin lulusan yang kompetensinya sudah siap kerja, jadi kami buat juga di PENS,” ujarnya.

Di metode Teaching Factory juga diajarkan tidak hanya produksi barang industri, tetapi juga melakukan bisnis hasil industri. Kolaborasi inkubasi bisnis dan pembelajaran itulah yang akhirnya dipakai di PENS sampai sekarang, jelas Taufik.

“Hasil produksinya pun diminati langsung oleh industri, diantaranya adalah PCB hasil kami yang sudah dipesan dan dipakai oleh Cubicon, serta beberapa industri lainnya,” ungkapnya. Revitalisasi Politeknik, Vokasi Pasti! (DZI)

1 2 3 4 10