Unsur Feminisme Dalam Kumpulan Novel Karya Pramoedya Ananta Toer

Unsur Feminisme Dalam Kumpulan Novel Karya Pramoedya Ananta Toer. Unsur Feminisme sangat jelas terbaca dalam tujuh buah novel karya Maestro Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Ketujuh novel tersebut adalah Panggil Aku Kartini Saja, Calon Arang, Bumi Manusia, Larasati, Gadis Pantai, Arok Dedes, dan Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer.
Unsur Feminisme Dalam Kumpulan Novel Karya Pramoedya
“Ketujuh novel itu menyimpulkan bahwa para perempuan dalam novelnya, meskipun hidup di masa lalu namun mereka sudah memperjuangkan pendidikan,” ujar Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Untan, Dr. Agus Wartiningsih.
Unsur Feminisme Dalam Kumpulan Novel Karya Pramoedya Ananta Toer. Ia mencontohkan, dalam novel Panggil Aku Kartini Saja, sosok Kartini adalah anak seorang pejabat (patih) yang tidak mendapat kesempatan untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi, karena faktor budaya patriarki saat itu. Walau tidak sekolah tinggi, Kartini banyak membaca majalah berbahasa Belanda dan pintar menulis dalam Bahasa Belanda. Ia juga menjadi pelopor seni lukis, seni ukir, hingga seni melukis batik tulis Jepara.
Unsur Feminisme Dalam Kumpulan Novel Karya Pramoedya Ananta Toer. Kartini juga mengajak kaum perempuan di Jepara untuk selalu belajar dan ia turut memperjuangkan kehidupan para pengukir meubel di Jepara. Meskipun giat memperjuangkan feminisme terutama dalam kesetaraan pendidikan pria dan wanita, namun ternyata Kartini sebenarnya tidak ingin melawan kodratnya sebagai perempuan.
“Kartini mengerti bahwa perempuan tidak akan pernah melampaui kodratnya sebagai perempuan. Kodrat antara laki-laki dan perempuan memang berbeda,” kata Agus.
Unsur Feminisme Dalam Kumpulan Novel Karya Pramoedya Ananta Toer. Sementara, Novel Bumi Manusia kata Agus, menceritakan tentang sosok Nyai Ontosoroh, seorang istri simpanan (gundik) petinggi Belanda. Meskipun tidak mengecap pendidikan formal, ia tetap rajin belajar untuk meningkatkan derajatnya. Ia juga berani menentang kebijakan pemerintah kolonial Hindia-Belanda yang sangat menindas kaum perempuan pribumi kala itu.
Unsur Feminisme Dalam Kumpulan Novel Karya Pramoedya Ananta Toer. Gadis Pantai lanjut Agus, merupakan novel yang berkisah tentang lelaki bangsawan Jawa yang menikahi perempuan kebanyakan. Meskipun seorang bangsawan Jawa telah berkali-kali menikahi perempuan kebanyakan-bukan dari kalangan ningrat-ia tetap dianggap masih perjaka. Sementara si Gadis Pantai (dalam novel tidak disebutkan namanya) dianggap sebagai sahaya. Sebagai seorang sahaya, apabila ia melahirkan anak perempuan, maka ia langsung dikembalikan ke orangtuanya dan anak itu diambil pihak suami. Si sahaya hanya diberi uang ganti rugi.
“Novel Gadis Pantai menggambarkan ketidakadilan kepada perempuan kebanyakan saat itu,” kata Agus.
Dalam Arok Dedes, sosok Ken Dedes digambarkan sebagai sosok yang hebat. Novel ini berlatar Kerajaan Kertajaya, yang mana Ken Dedes merupakan gadis yang tidak pernah mengecap bangku sekolah. Ibunya meninggal dunia saat Dedes masih kecil, dan ia diasuh oleh ayahnya, diajari menghafal mantra.
Saat itu, Ken Dedes adalah satu-satunya perempuan saat itu yang sudah memikirkan bagaimana mendapatkan kedudukan di Kerajaan Kertajaya. Ia dipaksa menikah dengan Tunggul Ametung dan dijadikan selir. Ken Dedes yang sakit hati dan menyimpan dendam, merencanakan membunuh Tunggul Ametung melalui tangan Ken Arok. Akhir kisah, Ken Dedes berhasil mendapat tahtanya dan menikah dengan Arok. Namun, budaya patriarki yang tidak mengijinkan perempuan untuk memimpin, membuat Dedes terpaksa menyerahkan tahtanya kepada Arok.
Agus Wartiningsih mengaku tertarik meneliti unsur feminisme dalam ketujuh novel karya Pramoedya Ananta Toer karena ketujuh novel ini berkisah tentang sosok para perempuan yang memperjuangkan pendidikan, kecuali pada novel Calon Arang. Selain mengutamakan pendidikan, para tokoh perempuan dalam ketujuh novel tersebut juga mengalami perjuangan, dan berbagai bentuk penindasan serta ketidakadilan.
“Mereka semua adalah tokoh perempuan yang hebat dan mewakili setiap zaman,” tandasnya.
Dr. Agus Wartiningsih
Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Untan.
(Vivi/Dede)

Pingback: ร้านลูกโป่ง
Pingback: Fryd extract
Pingback: bonanza178
Pingback: sahabat kartu
Pingback: ruby disposables cz 457 chassis cz75 kadet cz 457 provarmint cz accushadow ruby gmo cookies ruby goat milk disposable psl rifle for sale köpa stesolid utan recept fidel runtz strain
Pingback: alpha88 mobile
Pingback: Zip Code Map
Pingback: Muay Thai Ticket pattaya
Pingback: health tests
Pingback: Dnabet.com
Pingback: whatismyip
Pingback: เครื่องเลเซอร์หน้า
Pingback: Hunter898
Pingback: เกมไพ่
Pingback: https://alorgowan.com.ly/wordpress/2023/10/13/392025143965715904/
Pingback: cheap k2 spray on paper
Pingback: ความเป็นมาของ Xtreme Gaming
Pingback: 웹툰 미리보기
Pingback: https://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:LLhoqU_p31AJ:https://www.outlookindia.com/outlook-spotlight/the-14-best-press-release-distribution-services-of-for-enhanced-visibility-and-reach--news-301112&hl=en&gl=uk
Pingback: สั่งดอกไม้ออนไลน์
Pingback: super kaya 88
Pingback: Buy Apple Airpods Pallet
Pingback: โปรแกรมพรีเมียร์ลีก
Pingback: casino online
Pingback: Bau14c
Pingback: website
Pingback: Manna Play
Pingback: Fake 100 Canadian dollars
Pingback: where can i buy magic mushrooms online
Pingback: buy microdose online
Pingback: indovip
Pingback: phim tinh cam
Pingback: Dark net
Pingback: ฟิล์มกรองแสง
Pingback: b52club
Pingback: ปั้มไลค์
Pingback: อุปกรณ์ อุตสาหกรรม
Pingback: กระเบื้องยาง SPC
Pingback: find
Pingback: seo links buy free
Pingback: กระดาษฉาก