WEDUPRO- Website Edukasi Professor

Mantra Bagian dari Tradisi Lisan Suku Dayak Kanayatn

Mantra Bagian dari Tradisi Lisan Suku Dayak

Mantra Bagian dari Tradisi Lisan Suku Dayak Kanayatn–Saat meneliti suku Dayak Kanayatn di Desa Saham Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, pada 2009 lalu, Dr Sisilia Saman, dosen sekaligus peneliti Sosio-Linguistik Untan ini menemukan fakta menarik, bahwa ada pengucapan mantra yang merupakan bagian dari tradisi lisan Suku Dayak Kanayatn di Kecamatan Saham, Kabupaten Landak.

Mantra Bagian dari Tradisi Lisan Suku Dayak Kanayatn

“Mantra tersebut biasa diucapkan dalam upacara adat sepanjang tahun. Seperti saat panen padi misalnya, mulai dari proses pembukaan lahan, membersihkan lahan hingga membersihkan rumput dari ilalang atau yang disebut Nabo Uma selalu diiringi mantra yang dibacakan oleh orang tertentu,” ujarnya.

Terdapat banyak nilai yang terkandung dalam pembacaan mantra tersebut. Pertama, nilai yang berhubungan dengan Tuhan atau Jubata. Mereka percaya dan sangat menghormati Jubata. Kedua, mereka juga menyebut arwah leluhur dalam mantra yang dibacakan. Mereka percaya bahwa arwah nenek moyang mereka mendiami beberapa tempat sakral seperti  gunung, kuala, sungai dan hutan.

“Mereka sangat dekat dengan alam dan percaya bahwa ada roh nenek moyang yang menjaga alam sekitar,” kata Saman.

Ketiga, nilai gotong royong dan kebersamaan juga terkandung dalam tradisi lisan dan upacara adat masyarakat Dayak Kanayatn di Desa Saham.  Namun di sisi lain, langkanya regenerasi dalam pelestarian mantra juga menjadi masalah utama yang menghantui para tetua adat Suku Dayak Kanayatn.

Generasi muda di sana kurang tertarik untuk meneruskan tradisi lisan ini. Mereka memang tidak dipaksa untuk meneruskan, hanya dihimbau saja dalam rapat adat. Selain itu, juga tidak mudah untuk merapal mantra secara instan, harus melalui proses dan butuh ketekunan.

“Tidak semua generasi muda, bahkan anaknya sekalipun, mau meneruskan dan menjaga tradisi lisan ini,” tandasnya.

(Vivi/Dede)

Dr Sisilia Saman 

Dosen dan Peneliti Sosio-Linguistik Untan

42 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *