WEDUPRO- Website Edukasi Professor

Indonesia India Mengukuhkan Niat untuk Memperkuat Kembali Kerjasama Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi

JAKARTA – Duta Besar India, YM Nengcha Lhouvum Mukhopadhaya, mengadakan kunjungan kehormatan kepada Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Prof Mohamad Nasir yang didampingi oleh Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti Prof Ainun Na’im.

Dalam pertemuan Menristekdikti memberikan apresiasi kepada Pemerintah India, yang telah membina hubungan bilateral kedua negara dalam bidang Ilmu Pengetahuan (Iptek) dan Pendidikan, khususnya Pendidikan Tinggi (Dikti).

Kedua Negara telah mempunyai Nota Kesepahaman (MoU) sejak tahun 2011, dan akan diperbaharui sesuai dengam portfolio Kementerian Ristekdikti saat ini.

Bidang bidang kerjasama Iptek yang menjadi perhatian antara lain adalah (i) teknologi penerbangan dan antariksa, (ii) Teknologi Informasi dan Komunikasi, (iii) kesehatan dan obat-obatan, termasuk bioteknologi, disamping bidang kerjasama lainnya sesuai dengan MoU yang ditanda tangani pada tanggal 25 Januari 2011.

Pertemuan juga menyepakati rencana pembaharuan MoU dalam bidang a) Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, b) Pendidikan Tinggi, serta tiga usulan nota kesepahaman yang terkait dengan teknologi penerbangan dan atau dirgantara, serta ruang angkasa.

YM Duta Besar Nengcha mengapresiasi komitmen Menristekdikti Mohamad Nasir untuk dapat menyelesaikan MoU tersebut, yang direncanakan akan ditanda-tangani pada pertengahan Desember 2016 dihadapan kedua Kepala Negara.

Selain membina hubungan bilateral dengan India, Kemenristekdikti juga aktif dalam kerjasama ASEAN India bidang Iptek, dibawah koordinasi Komite Iptek ASEAN (ASEAN Committee on Science and Technology – ASEAN COST).

Pertemuan yang sangat informatif ini, ditutup dengan pertukaran cindera mata dari kedua Negara. (NM)

 

Motor Listrik Gesits Dikunjungi Dubes Amerika

Jakarta – Gaung sepeda motor listrik saat ini sedang mengemuka, terutama sejak diperkenalkannya motor listrik Gesits, yang merupakan produk hasil kolaborasi antara periset dari dunia pendidikan dan pebisnis otomotif nasional, pada Selasa (3/5). Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Muhammad Nasir pada saat peluncuran tersebut bahkan sempat mengatakan bahwa Gesits merupakan produk masa depan bangsa Indonesia.

Gesits, sepeda motor jenis skuter matik bertenaga listrik buatan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya dan Garansindo Group pun terus mendapatkan perhatian dan dukungan dari berbagai pihak. Baru-baru ini, Plt. Duta Besar Amerika Untuk Indonesia, Brian McFeeters dan Konsulat Jenderal Heather C. Variava berkunjung ke markas Gesits di Kampus ITS pada Selasa (4/10). Hal ini tidak lain merupakan bentuk dukungan terhadap proyek sepeda motor masa depan bernama lengkap Garansindo Electric Scooter ITS atau yang akrab disapa Gesits.

Dalam kunjungan tersebut, Brian McFeeters mengungkapkan antusiasmenya berada di Kampus ITS bersama dengan salah satu pembuat motor Gesits. “Saya sangat ingin bertemu para pembuat motor Gesits ini, yang kabarnya akan mulai dijual dalam waktu 2 tahun ke depan,” ujarnya. Brian juga mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan pihak ITS untuk dapat melihat langsung skuter matik listrik, Gesits.

Sementara itu, Muhammad Al Abdullah, Presiden Direktur Garansindo Group, melalui postingan akun resmi media sosialnya menuliskan bahwa kedatangan perwakilan Duta Besar Amerika tersebut merupakan bentuk dukungan dan perhatian besar dari dunia internasional terhadap produk Gesits. Al juga mengatakan bahwa apresiasi ini membuat gembira para mahasiswa di ITS dan menambah spirit bagi Gesits untuk dapat segera memberikan produk karya anak bangsa yang berkualitas dengan standar internasional.

Peran Kota dalam Mendorong Penguatan SIDa

Tangerang Selatan – Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi menegaskan pentingnya peran kota dan daerah dalam mendorong inovasi, khususnya Sistem Inovasi Daerah (SIDa). Tanpa iptek dan inovasi, promosi pembangunan berkelanjutan dinilai tidak lengkap. Hal ini disampaikan Jumain Appe, Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti pada The 15th World Technopolis Association (WTA) Mayor’s Forum, yang merupakan rangkaian kegiatan Tangerang Selatan Global Innovation Forum (TGIF) 2016, di Tangerang Selatan, Kamis (22/9).

wta1 9ds_0140

Dalam sambutannya pada Forum Walikota yang bertema “Kebijakan dan Program Pemerintah Kota dalam Membina Inovasi Untuk Meningkatkan Perekonomian Daerah” tersebut, Jumain menjelaskan bahwa tahun 2016 merupakan tahun ke-17 The Sustainable Development Goals (SDGs) sejak The 2030 Agenda for Sustainable Development resmi diberlakukan. “Dalam mencapai SDGs di seluruh dunia, kita semua menyadari bahwa kota memainkan peran utama. Tidak diragukan lagi, kontribusi wali kota, pemerintah daerah dan perwakilan dalam mengadvokasi SDGs sangat penting,” tegasnya.

Menurut Jumain, SIDa bertujuan untuk mempercepat pembangunan daerah dan menyukseskan program pemerintah daerah. Oleh karenanya, setiap daerah harus memiliki spesialisasi sendiri mencakup pengetahuan dan budaya lokal bagi perkembangan inovasi, agar mampu bersaing di kancah global. Dalam mengembangkan kebijakan inovasi, adanya tantangan spesifik dan potensi yang berbeda di masing-masing daerah akan menghasilkan strategi yang berbeda-beda pula untuk diterapkan.

Selain itu, meskipun kemajuan teknologi telah mendorong lahirnya berbagai inovasi berbasis teknologi, Jumain melihat bahwa peningkatan pengetahuan non-teknologi juga diperlukan sebagai kekuatan pendorong inovasi. Hal ini disebabkan, pengetahuan yang digunakan untuk inovasi semakin komposit, sejalan dengan pergeseran nilai-nilai dan praktik-praktik di masyarakat. Contohnya, kebangkitan industri kreatif yang menggabungkan aspek budaya dan estetika dalam suatu produk atau jasa.

Jumain juga menambahkan bahwa dalam SIDa, wilayah yang inovatif diidentifikasi sebagai orang-orang yang memiliki kapasitas lokal untuk memobilisasi dan mengonfigurasi ulang sumber daya lokal untuk memperkuat iklim kewirausahaan. “Perlu digarisbawahi bahwa penting untuk memperluas paradigma wilayah inovatif terhadap kedekatan geografis. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini telah memungkinkan kita untuk berinteraksi dengan pihak luar sehingga dapat dilakukan transfer pengetahuan,” jelasnya dalam forum yang dihadiri oleh Presiden WTA sekaligus Walikota Daejon, Korea Selatan, Kwon Sun Talk, serta Walikota Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany tersebut.

Sementara itu, dijelaskan oleh Walikota Airin, dipilihnya Tangerang Selatan sebagai penyelenggara Global Innovation Forum (GIF) tahun 2016 ini, tidak lepas karena keikutsertaan kota ini sebagai salah satu anggota WTA. Melalui GIF, berbagai kota di Indonesia maupun kota-kota lainnya di berbagai penjuru dunia di bawah koordinasi UNESCO, diharapkan dapat lebih inovatif dalam menggunakan serta mengembangkan hasil riset ilmiah untuk pembangunan kota berkelanjutan. “Dengan demikian, berbagai inovasi serta potensi daerah bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan di masa depan,” tandasnya.

Meningkatkan Mutu Sertifikasi Nasional Untuk Memperkuat Daya Saing

JAKARTA – Selasa (4/10), bertempat di gedung BPPT Thamrin, Jakarta Pusat, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi menghadiri sekaligus membuka Seminar Penerapan SNI ISO/IEC 17024 untuk memperkuat daya saing SDM Indonesia di pasar global.
Menristekdikti Mohamad Nasir dalam sambutan pembukaan seminar mengatakan seminar ini mempunyai tujuan bagaimana Indonesia dapat meningkatkan SDM yang berkualitas agar bisa berkompetisi di dunia. “Dengan adanya seminar ini, saya sangat mengapresiasi Badan Standardisasi Nasional (BSN) turut dalam meningkatkan sumber daya manusia yang berkompeten dan memiliki sertifikat profesi, jangan sampai kita dalam era kompetisi ini kita tidak mampu berkompetisi dengan baik,” ujar Nasir.

Selanjutnya Nasir juga meminta kepada BSN untuk tetap menjaga kualitas BSN sehingga jangan sampai menjadi lembaga sertifikasi profesi yang hanya “tukang stempel” saja.

Selain itu Menristekdikti mengatakan, “jangan sampai dalam era kompetitif ini, kita tidak dapat bersaing, karena dalam era globalisasi disanalah kompetitif kita diuji, dan saya berharap kita dapat kompetitif di dunia internasional apalagi dengan perkembangan teknologi saat ini, tidak ada batas dalam dunia internasional, yang menjadi batasan adalah administrasi. Semoga sertifikasi di indonesia dapat menjaga mutu sertifikasi yang di keluarkan dan menghasilkan sumber daya yang kompeten. semoga seminar pagi ini dapat menjadi nilai tambah bagi kita semua khususnya yang menyangkut sertifikasi dan profesi,” kata Nasir yang sekaligus membuka secara resmi seminar.

Sementara itu, dikesempatan yang sama menurut Kepala BSN Bambang Prasetya Indonesia juga memiliki sertifikasi standar internasional, karena tenaga kerja di Indonesia cukup potensial oleh karena itu sertifikasi dengan standar ISO 17024 harus di lakukan agar tidak ada sertifikat yang tidak sesuai standarisasi.

Bambang juga menerangkan bahwa lembaga sertifikasi di Indonesia sudah mendapat pengakuan di kancah internasional khususnya mengenai standarisasi proses penilaian dan penyelenggaraan sertifikasi. “Predikat ini hanya diberikan kepada 2 negara saja dari seluruh dunia, yakni Amerika Serikat dan Indonesia,” tambahnya.

Pada acara seminar ini Menristekdikti juga memberi sertifikat akreditasi kepada 7 LSP (Lembaga Sertifikasi Personel) diantaranya adalah LSP pusat pengembangan tenaga perminyakan dan gas bumi, LSP pusat pengujian mutu barang, LSP pusat standarisasi lipi, LSP balai besar bahan dan barang teknik, LSP user pln, LSP bidang keteknisan medik, dan LSP quantum. (Aro/nf)

STS Forum Menyambut Era Society 5.0

Science and Technology in Society Forum (STS forum) merupakan lembaga nirlaba internasional yang dibentuk pada tahun 2004 di Jepang, yang bertujuan untuk memajukan kontribusi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di dunia, serta mengembangkan jejaring antara pemangku kepentingan iptek dari sektor bisnis, politik, akademisi, pemerintah dan media massa.

Setiap tahun STS forum menyelenggarakan pertemuan yang dihadiri sekitar 1200 peserta dari lebih 100 negara.

Tahun ini pertemuan STS Forum diadakan di Kyoto International Conference Center, Jepang pada tanggal 1-4 Oktober 2016, dibuka langsung oleh Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe dan dihadiri Perdana Menteri Slovenia, Wakil Perdana Menteri Rusia dan 16 orang Menteri terkait Iptek dari negara-negara mitra STS Forum.

Dalam sambutannya, PM Abe menyampaikan bahwa perkembangan iptek yang demikian pesat akan membawa manusia masuk ke dalam era “Society 5.0”, dimana iptek mampu menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh manusia khususnya dalam bidang kesehatan.

PM Abe menjelaskan lompatan dalam sejarah manusia dimana masa berburu adalah era “Society 1.0”, dan “Society 2.0” adalah era dimana manusia mulai bertani sedangkan “Society 3.0” adalah era industrialisasi. Saat ini kita sedang bersiap-siap meninggalkan era “Society 4.0” yaitu era teknologi informasi menuju “Society 5.0”. “Dalam era Society 5.0 seluruh teknologi penginderaan, robotika, komunikasi, BIG data, dan komputasi awan akan menyatu menjadi solusi untuk berbagai masalah kita yang sebelumnya dianggap tidak dapat terpecahkan,” ujar PM Abe.

Delegasi Indonesia yang hadir pada Forum STS tersebut adalah Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti Muhammad Dimyati; Kepala BPPT, Unggul Priyanto; dan Kepala LIPI, Iskandar Zulkarnain. Muhammad Dimyati mewakili Menristekdikti dalam pertemuan para Menteri terkait Iptek dari negara-negara mitra STS Forum.

Sedangkan Kepala BPPT dan Kepala LIPI masing-masing menjadi pembicara pada sesi tematik “Collaboration among Academia, Industries and Government” dan  “Industrial Innovation”.

Delegasi Indonesia pada forum ini bertukar pengalaman dan informasi dengan delegasi negara lain tentang kondisi pencapaian iptek masing-masing negara.

Di sela-sela forum STS, delegasi Indonesia secara khusus diundang oleh pendiri sekaligus pemimpin STS Forum, Koji Omi untuk membicarakan peluang untuk meningkatkan kerjasama antara Jepang dengan Indonesia di bidang Iptek dan inovasi.

Pada pertemuan tersebut disepakati untuk menyelenggarakan simposium pada bulan April 2017 di Indonesia yang akan dihadiri oleh para pemangku kepentingan iptek dari kedua negara yang berasal dari sektor pemerintah, akademisi dan industri. (MWR)

Kemenristekdikti Targetkan Pembangunan 3 Science Center Baru di Daerah

JAKARTA – Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menargetkan akan menambah tiga science center baru di beberapa wilayah di Indonesia hingga akhir tahun 2016. Ketiga daerah yang direncanakan menjadi lokus pembangunan adalah Makassar, Bali dan Sumbawa. Hal ini dinyatakan oleh Jumain Appe, Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, di sela acara Kongres Asosiasi Science Center Indonesia (ASCI) ke-3 di BSD City, Serpong (3/10/2016).

Menurut Jumain, hingga saat ini Kemenristekdikti telah mengembangkan setidaknya 18 Pusat Peragaan Iptek (PP-Iptek), sejak awal dikembangkannya science center ini pada tahun 1991 di Jakarta, yang kemudian disusul tahun 2000 di Padalarang, Palembang, Yogyakarta, dan beberapa daerah lainnya. “Kedepan, Kementerian akan membangun PP-Iptek di tiga daerah yakni Makasar, Bali dan Sumbawa. Karena itu, kami akan terus promosikan PP-Iptek di daerah agar orang atau warga mau berkunjung ke PP-Iptek tersebut”,  ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Jumain juga menambahkan bahwa Kemenristekdikti secara intensif terus mendorong pemerintah daerah agar dapat merespon pentingnya membangun science center di wilayahnya masing-masing. PP-Iptek yang berada di bawah naungan direktorat jenderal yang dipimpinnya, akan mengambil peran dalam berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada setiap daerah yang berkeinginan merintis pembangunan science center di wilayahnya. “Misi pendirian PP-Iptek adalah untuk menumbuhkembangkan pemahaman dan apresiasi masyarakat mengenai pentingnya iptek dalam pembangunan bangsa dan negara. Untuk itu, pemerintah telah melakukan berbagai upaya dengan menjalin kemitraan, baik di lingkungan institusi pemerintah, dunia industri, maupun perguruan tinggi, agar bersama-sama memberikan perhatian yang besar kepada pembentukan PP- Iptek di daerah” tandasnya.

Dalam Kongres ASCI yang digelar selama tiga hari sejak 3-6 Oktober 2016 tersebut, beberapa hal penting yang dibahas antara lain mengenai peningkatan pelayanan science center melalui pengembangan alat-alat peraga berdasarkan isu yang diperlukan, sharing pertukaran alat peraga, pembangunan jaringan kemitraan, dan hal-hal yang dibutuhkan pengunjung, termasuk perumusan strategi yang dilakukan agar masyarakat tertarik berkunjung ke PP-Iptek.

ASCI sendiri merupakan lembaga yang menaungi science center di seluruh Indonesia. Science center sebagai wahana pembelajaran Iptek non formal, memiliki peran dalam meningkatkan pemahaman terhadap Iptek bagi masyarakat di segala usia. Di samping itu, pembentukan ASCI juga diharapkan dapat menjadi wadah kerjasama antar science center, perintisan dan pembangunan science center di daerah, serta pengembangan jejaring dengan berbagai stakeholder.

1 7 8 9 10