WEDUPRO- Website Edukasi Professor

Jepang Tingkatkan Kolaborasi Iptekin dengan ASEAN

“ASEAN merupakan mitra kerja sama yang sangat penting bagi Jepang untuk mempromosikan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi (iptekin)” ungkap Hirotaka Yamada, Director for International Cooperation, Ministry of Education, Culture, Sports, Science and Technology (MEXT) Jepang pada pertemuan the 7th Meeting of ASEAN-Japan Cooperation Committee on Science and Technology (AJCCST-7) yang diselenggarakan pada tanggal 28 Oktober 2016 di Siem Reap, Kamboja.

Menduduki peringkat kedua, sebanyak 13,7% (23.743 peneliti) peneliti Jepang melakukan penelitiannya di ASEAN, sebaliknya jumlah peneliti ASEAN yang melakukan penelitiannya di Jepang, menduduki peringkat ketiga tertinggi mencapai 13,6% (5.088 peneliti). Hal ini menunjukkan bahwa terjadinya kolaborasi iptek yang intensif antara ASEAN dengan Jepang.

kamboja-10

Tran Don Phuong selaku Director for Sectoral Development, ASEAN Secretariat (ASEC), menyampaikan bahwa seluruh kegiatan kerja sama iptekin harus selaras dengan strategic thrust yang tertuang dalam ASEAN Plan of Action on Science, Technology, and Innovation (APASTI) 2016-2025, yakni (1) Public-Private Collaboration; (2) Mobility, Connectivity, and Inclusive; (3) Entreprise Support; dan (4) STI Awareness and Enculturation. Phuong juga menyampaikan bahwa pada pertemuan tingkat Menteri Iptek ASEAN yang direncanakan akan diselenggarakan esok pada tanggal 29 Oktober 2016, akan mengadopsi APASTI Implementation Plan (AIP) 2016-2025 yang mencakup kegiatan, indicator untuk monitoring dan evaluasi, milestones dan expected outcomes.

Yamada menanggapi positif perkembangan kebijakan iptekin ASEAN yang disampaikan ASEC dan Jepang siap untuk menjadi mitra wicara ASEAN yang memberikan kontribusi signifikan melalui berbagai program kerja sama yang diluncurkan oleh Pemerintah Jepang. Salah satu program yang baru diluncurkan oleh Pemerintah Jepang untuk memperkuat kerja sama iptekin dengan seluruh negara anggota ASEAN, yakni Japan-ASEAN Science, Technology, and Innovation Platform (JASTIP). Hal ini juga disampaikan dalam pertemuan ASEAN-Japan Summit pada bulan September 2016, di Laos. JASTIP ini bertujuan untuk menciptakan sebuah wahana bagi ASEAN-Jepang untuk berkolaborasi dalam bidang iptekin menuju Sustainable Development Goals (SDGs) dengan rencana strategis yang meliputi sharing and networking, capacity building and human development, dan social implementation yang melibatkan berbagai sektor dari akademisi, pemerintah, swasta, NGO, dan local communities. Saat ini JASTIP memiliki mitra utama kerja sama yang terdiri dari LIPI untuk Bioresources and Biodiversity, National Science and Technology Development Agency (NSTDA) Thailand untuk Environment and Energy, Malaysia-Japan International Institute of Technology (MJIIT) untuk Disaster Prevention.

kamboja-12

Pertemuan ini dihadiri oleh Sekretaris Jenderal dan perwakilan Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik Kemenristekdikti. (ap/kskp)

MINO Micro Bubble Indonesia Presentasi pada pertemuan the 6th ASEAN-US Consultation on Science and Technology

Salah satu finalis Young Southeast Asian Leaders Initiatives (YSEALI) World of Food Innovation Challenge 2016¸ tim MINO dari Indonesia memberikan presentasi akhir (pitching) di hadapan para National Committee on Science and Technology (COST) chairperson pada the 6th ASEAN-US Consultation on Science and Technology yang dilaksanakan pada tanggal 27 Oktober 2016 di Siem Reap, Kamboja.

Bersama finalis lainnya dari Kamboja dan Malaysia, pitching selama kurang lebih lima menit tim MINO Indonesia berhasil menarik decak kagum para National COST Chairperson dan ASEAN Secretariat. Tim Mino berhasil menjawab pertanyaan dari Singapura dan Indonesia dengan tepat dan penuh percaya diri.

kamboja-3

Terdiri dari tiga mahasiswa tingkat akhir Universitas Gadjah Mada (UGM), Nabil Satria, Fajar Sidik, dan Untari Ramadhani, menciptakan terobosan teknologi berupa micro bubble untuk meningkatkan jumlah oksigen yang larut dalam air guna meningkatkan pertumbuhan ikan. Disupervisi oleh Dr. Deendarlianto (Kepala Pusat Studi Energi UGM), terobosan teknologi ini sudah diuji coba oleh petani ikan di daerah Bokesan, Yogyakarta, Indonesia. Hasil yang disampaikan dalam konsultasi iptek ASEAN-Amerika Serikat bahwa teknologi MINO berhasil meningkatkan hasil produksi sebesar 62%.

Setiap negara ASEAN, akan memberikan penilaian akhir untuk setiap finalis YSEALI tersebut dan hasil penilaian tersebut akan disampaikan pada Award Ceremony ASEAN 2016 pada tanggal 28 Oktober 2016 di Siem Reap, Kamboja.

kamboja-4

Pada konsultasi iptek ASEAN-Amerika Serikat juga disampaikan pemenang dari ASEAN-US Prize Women in Science yakni dari Thailand, Dr. Worajit Setthapun. Nina Hachigian selaku Duta Besar Amerika Serikat untuk ASEAN menyampaikan bahwa kandidat peneliti perempuan yang masuk merupakan peneliti perempuan yang outstanding di bidang energi berkelanjutan (sustainable energy) sehingga Amerika Serikat bersama UL (Underwriters Laboratories) dan USAID menetapkan ASEAN-US Prize Women in Science 2016, untuk menambahkan pemenang runner up dari Malaysia. Dr. Sharifah Rafidah Wan Alwi, Malaysia, telah memberikan kontribusi yang luar biasa tidak kalah dari Thailand terhadap bidang yang digeluti yakni bidang energi berkelanjutan. Selain itu, Amerika Serikat juga menyampaikan perkembangan pada ASEAN-US Fellowship Program 2016-2017 yang selama tiga periode telah memperoleh dukungan dari US Progress. Melihat dampak positif dari program fellowship ini, Amerika Serikat menyampaikan bahwa program fellowship ini akan berlanjut dengan bekerjasama dengan ASEAN Foundation untuk periode 2017-2018.  

kamboja-6

Konsultasi iptek ASEAN-Amerika Serikat ini dihadiri oleh Sekretaris Jenderal selaku National COST Chairman untuk Indonesia dan perwakilan Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik, Kemenristekdikti. Konsultasi iptek ASEAN-Amerika Serikat berikutnya akan diselenggarakan pada tahun 2017. (ap/kskp)

Tingkatkan Potensi Daerah Melalui Pendidikan dan Teknologi

MADURA – “Sumenep memiliki sejumlah potensi alam yang menjanjikan, mulai dari sektor pertanian, peternakan, perikanan, kelautan, dan sebagainya,” ujar Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir saat kunjungan kerja ke Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika), Rabu (27/10).

Pada kunjungan ke Instika, Menristekdikti disambut oleh Bupati Sumenep Busyro Karim. Dalam sambutannya Bupati Busyro memaparkan seluruh potensi alam yang ada di Sumenep, Madura.

Menurut Nasir, seluruh potensi alam tersebut harus dikembangkan melalui pendidikan dan teknologi. Karena itu, Nasir ingin agar pendidikan tinggi kedepan berbasis potensi lokal yang dimiliki suatu daerah.

“Kehadiran dunia pendidikan di suatu daerah harus berimplikasi pada perekonomian masyarakat. Penguatan ekonomi masyarakat perlu kita tingkatkan,” tegasnya.

IB Sexing

Kunjungan kerja kali ini Menteri Nasir memperkenalkan teknologi Inseminasi Buatan (IB)-Sexing dan embrio transfer kepada masyarakat Sumenep. IB Sexing merupakan inseminasi buatan menggunakan sperma dengan menseleksi jenis kelamin berdasarkan kromosom X (betina) dan Y (Jantan). Sedangkan embrio transfer merupakan menanampak hasil seleksi yang didapat pada sapi-sapi betina.

Menteri Nasir menyampaikan bahwa Kemenristekdikti memiliki teknologi dalam hal breeding sapi unggul dengan teknik IB-Sexing yang dapat melahirkan keturunan sapi unggul. Diharapkan dengan teknologi ini sapi di Madura dapat meningkat kualitasnya.

IB Sexing dan Embrio Transfer merupakan contoh pemanfaatan Iptek dalam kehidupan masyarakat sehari-hari yang dapat memberikan nilai tambah dan manfaat yang besar secara ekonomi. Sektor peternakan merupakan salah satu sumber penghidupan sebagian masyarakat di Indonesia yang sudah tersentuh teknologi dan telah terbukti memberi dampak yang signifikan pada peningkatan produktivitas sektor tersebut.

Salah satu potensi menonjol yang dimiliki Sumenep adalah sapi. Populasi Sapi di Pulau Sapudi sangatlah banyak hingga daerah tersebut diakui menjadi daerah terbanyak populasi sapinya se-Indonesia.

Namun masih ada beberapa kendala untuk meningkatkan jumlah dan kualitas sapi di Madura, termasuk jumlah pusat kesehatan hewan dan tenaga inseminatornya.

“Itulah gunanya pemanfaatan teknologi disinergikan dengan peningkatan ekonomi rakyat,” pungkas Nasir. (FLH)

Selamat! Inilah Peraih Penghargaan Diktekdik Berprestasi Nasional 2016

Bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-88, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi kembali memberikan penghargaan kepada insan pendidik dan tenaga kependidikan berprestasi. Penghargaan tersebut diberikan pada acara Anugerah Pendidik dan Tenaga Kependidikan Berprestasi Tingkat Nasional 2016 yg diselenggarakan pada jumat (28/10) di Bandung, Jawa Barat.

Gelaran ini merupakan gelaran ke–14 Diktendik berprestasi tingkat nasional yg diselenggarakan tiap tahun sejak tahun 2004 silam.

“Pemberian penghargaan ini diharapkan mampu mendorong dosen dan tenaga kependidikan untuk berprestasi dan lebih produktif sehingga tercapainya tujuan pengembangan sistem pendidikan tinggi khususnya dan pembangunan sosial pada umumnya,” ujar Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemristekdikti Ali Ghufron Mukti.

Lebih lanjut Ali Ghufton Mukti mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan agar setiap perguruan tinggi (PT) tergerak untuk memiliki sistem penghargaan yang terprogram bagi dosen dan tenaga kependidikan, meningkatkan motivasi untuk bekerja lebih keras dan lebih cerdas dalam pelaksanaan tridharma perguruan tinggi, dan menumbuhkan kebanggaan di kalangan dosen dan tenaga kependidikan terhadap profesinya.

Jumlah peserta seleksi pendidik dan tenaga kependidikan berprestasi 2016, tercatat sebanyak 266 orang dengan rincian, kategori administrasi akademik berprestasi 36 orang, kategori dosen berprestasi 63 orang, kategori kepala program studi berprestasi 48 orang, kategori laboran berprestasi 44 orang, kategori pengelola keuangan berprestasi 36 orang, dan kategori pustakawan berprestasi 38 orang.

Dari total 266 peserta tersebut kemudian disaring menjadi 10 finalis utk setiap kategori.
Setiap finalis di masing-masing kategori melakukan presentasi terkait capaian prestasi dan inovasi dihadapan dewan juri pada masing-masing kategori.
Pemenang pertama kategori dosen berprestasi diberikan penghargaan berupa uang sebesar Rp 40 juta, pemenang kedua Rp 30 juta dan pemenang ketiga Rp 25 juta. Sedangkan untuk pemenang tenaga kependidikan secara berurutan berhak mendapatkan Rp 30 juta, Rp 25 juta dan Rp 20 juta. Selain itu, untuk setiap finalis pada masing-masing kategori diberikan penghargaan berua uang sebesar Rp 5 juta.

Pemenang pertama kategori Dosen berprestasi adalah Agung Endro Nugroho dari UGM. Sedangkan pemenang kedua Luki Abdullah (IPB), dan pemenang ketiga Siti Machmudah (ITS).
Untuk kategori Ketua Program Studi Berprestasi, juara pertama diraih oleh Iman Rusmana dari IPB. Sedangkan utk juara II Harwin Saptoadi (UGM), dan juara III Widjodjo Adi Prakoso (UI).

Untuk kategori Laboran Berprestasi, Amarudin dari Universitas Indonesia meraih peringkat pertama, Esti Prihantini (IPB) meraih peringkat II, dan Yusuf Umardani (UGM) pada peringkat III.

Peringkat pertama pada kategori Pustakawan Berprestasi diraih oleh Nurintan Cynthia Tyasmara dari Universitas Indonesia. Sedangkan Amirul Ulum (Universitas Surabaya) meraih peringkat II, dan Wiwik Istiyarini (ITB) pada peringkat III.

Untuk kategori Administrasi Akademik berprestasi, peringkat pertama diraih oleh A. Ponco Hadi Heru C dari Universitas Katolik Soegijapranata Semarang. Peringkat II diraih Andi Saputra (Unand), sedangkan Franky Agus Adiwerna (UGM) meraih peringkat III.

Terakhir, untuk kategori Pengelola Keuangan berprestasi peringkat I diraih oleh Bagus Sri Widodo dr UGM. Sedangkan Apip (UNDIP) meraih peringkat II, dan Tri Utami (UNS) meraih peringkat III.

Selamat bagi para penerima penghargaan Diktekdik berprestasi tingkat nasional tahun 2016. Semoga capaian yg diraih mampu menjadi pelecut untuk selalu bekerja keras dan berinovasi dalam mewujudkan pendidikan tinggi yang berkualitas di Indonesia tercinta. (msf)

Kemenristekdikti dan EU-Indonesia TCF Gelar Workshop STP dan TTO

Dalam rangka memperkuat strategi program hilirisasi dan komersialisasi berbagai hasil inovasi, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) bersama The EU-Indonesia Trade Cooperation Facility (TCF) mengadakan Workshop STPs and TTOs – Effective Implementation Methods pada Selasa (25/10). Kegiatan yang diselenggarakan di Double Tree Hilton Hotel ini merupakan tindak lanjut hasil mentoring dan pelatihan Science and Technology Park (STP) dan Technology Transfer Office (TTO) yang sebelumnya telah diadakan The EU-Indonesia TCF kepada lima universitas di Indonesia, yakni Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Gajah Mada, dan Universitas Hasanuddin.

Tidak hanya dihadiri oleh peserta dari lingkungan Kemenristekdikti, workshop yang difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi dan Direktorat Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Kemenristekdikti ini, diikuti pula oleh perwakilan dari STP, universitas, Kementerian Perindustrian, LIPI, dan BPPT. Beberapa topik mengenai STP yang dibahas dalam workshop ini antara lain tentang pengembangan dan implementasi instrumen kebijakan, perencanaan STP, implementasi STP, hingga monitoring dan evaluasi STP. Sementara topik mengenai TTO yang dibahas antara lain tentang unsur-unsur atau prasyarat TTO yang sukses, pengaturan dan penyiapan TTO, proses bisnis yang ideal, hingga monitoring dan pengukuran output TTO.

Workshop yang diawali dengan lesson learned program STP dan TTO yang dilakukan oleh The EU-Indonesia TCF ini, dilanjutkan dengan pembahasan mengenai usulan guidelines mengenai implementasi STP dan TTO di Indonesian yang diinisiasi oleh The EU-Indonesia TCF. Beberapa masukan yang nantinya akan digunakan untuk menyempurnakan draft pedoman kebijakan dan implementasi STP serta pengaturan TTO di Indonesia ini, antara lain mengenai perlunya indikator khusus STP, kriteria keberhasilan dan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung program STP, dukungan kuantitatif data untuk TTO, juga petunjuk teknis dalam mendesain metode technology assessment TTO.

The EU-Indonesia TCF sendiri merupakan sebuah program empat tahun yang telah dimulai sejak tahun 2013, didanai oleh Uni Eropa dan dilaksanakan oleh suatu konsorsium internasional. Tujuan dari program ini adalah untuk memperkuat kapasitas lembaga pemerintah dalam mengembangkan iklim perdagangan dan investasi di Indonesia, serta memberikan kontribusi kepada pembangunan ekonomi jangka panjang yang berkelanjutan. (PSP)

Butuh Bantuan Pindahkan Barang? Ajak PRIMo

Surabaya- Politeknik Elektronik Negeri Surabaya (PENS) berhasil menciptakan robot baru pemindah barang yang bahan bakunya dibuat secara mandiri oleh PENS.

Robot baru yang dinamakan PENS Robot Intellegent Mover (PRIMo) ini digunakan untuk memindahkan barang-barang/bahan baku hasil produksi dari satu tempat ke tempat lain.

PRIMo yang bergerak secara otomatis dan kecepatan jalannya dapat diatur ini dapat menampung beban hingga 600 Kilogram untuk pemindahan barang.

Ditemui di sela acara Serah Terima Hasil Produk Inovasi PENS “KIPENSA dan PRIMo” dari Menristekdikti kepada Industri PT. CNE dan PT. JAI, jumat (28/10) di gedung pascasarjana PENS, Menristekdikti Mohamad Nasir mengatakan sangat bangga dengan hasil produk PENS tersebut karena material pembuatannya dilakukan oleh PENS dan produknya diterima oleh industri.

Nasir juga katakan bahwa ini merupakan salah satu program berhasil dari Pemerintah.

“Dengan produk-produk seperti ini, program Revitalisasi Politeknik yang dicanangkan Pemerintah sudah mulai berhasil. Karena saat ini kami memang sedang menggenjot 12 Politeknik Negeri untuk direvitalisasi,” ucap Nasir yang didampingi Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh.

Pada kesempatan yang sama Nasir juga meninjau proses perakitan Kapal yang dibuat oleh Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) yang juga sudah banyak menghasilkan kapal-kapal laut dari bahan alumunium, dan beberapa bahan produknya sudah dipakai oleh para Nelayan maupun industri eksplorasi minyak.

“Majukan terus produk-produk kapal ini, saya sangat mendukung karena ini sebagai program dukungan untuk kemaritiman, dan yang paling penting segala sertifikasinya segera dilengkapi, sehingga industri dapat menangkap lebih cepat dan antar pulau di Indonesia dapat terhubung dengan baik,” ujar Nasir.

Nasir mengatakan untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa juga sekarang dikembangkan terus pola 3-2-1. 3 semester di kampus, 2 semester di industri dan 1 semester untuk tugas akhir.

“Dengan pola itu, kompetensi lulusan politeknik akan sangat bertambah, dan cepat diserap oleh industri yang membutuhkan, atau menjadi entrepeneur unggul,” pungkas Nasir. (DZI)

1 2 3 4 5 6 14