WEDUPRO- Website Edukasi Professor

Pengetahuan dan Kemampuan Menjadi Kunci Perubahan

Malang – Perkembangan yang semakin cepat membuat semua beralih dari masyarakat industri menuju masyarakat pengetahuan, dari ekonomi industri menuju ekonomi pengetahuan. Memperkuat sumber daya manusia yang berkompeten akan menjawab persoalan yang ada, begitulah yang disampaikan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir.

Dalam kuliah umum pada acara sarasehan yang bertemakan “Peran Strategis Perguruan Tinggi dalam Meningkatkan Daya Saing Bangsa” di gedung halal center Universitas Islam Malang (UNISMA), pada Rabu (19/10/2016). Menteri Nasir menegaskan inovasi menjadi peran penting untuk memenangkan daya saing. Pada era kompetisi ini, lulusan dari Perguruan Tinggi diharapkan bisa menciptakan inovasi-inovasi yang dapat memajukan perekonomian bangsa.

“Saya yakin lulusan Perguruan Tinggi bisa saling berkompetisi, dengan skills, menciptakan ide-ide baru yang orisinil, berani mengambil resiko, dan berkemauan membentuk kolaborasi, maka kita akan semakin dekat dengan perubahan,” ujar Nasir.

Dirinya menambahkan, untuk meningkatkan daya saing bangsa, kualitas sangat diperlukan. Perguruan Tinggi yang berkualitas harus punya lulusan yang memiliki skill worker atau tenaga kerja yang terampil untuk bersaing di dunia luar baik itu dalam negeri maupun luar negeri.

Menteri Nasir selalu menekankan, semakin tinggi pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki, semakin tinggi pula tanggung jawab sosial untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

“Pada perkembangan Perguruan Tinggi di Indonesia menuju world class university, memang kita bukan yang pertama tetapi kita adalah yg terbaik, dengan kualitas yang baik, semua bisa kita gapai,” tutup Nasir.

Pada sambutannya, Rektor Unisma, Masykuri Bakri mengatakan ingin menjadikan Unisma untuk bisa berkompetisi dengan Perguruan Tinggi di Indonesia dengan kualitas yang dimiliki untuk menuju world class university agar bisa bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

“Kedepan kami juga ingin meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang kita miliki di Unisma mulai dari guru besar, dosen, karyawan, serta mahasiswa agar menghasilkan lulusan yang berkualitas sesuai arahan pak menteri,” ungkap Masykuri.

Dalam kesempatan yang sama, Menristekdikti dan Rektor Unisma beserta jajaran juga meninjau pelaksanaan Job Fair Enterpreneur dan Scolarship Expo CDC LP2RP yang digelar di Gedung Halal Center, dan Laboratorium Fakultas Teknik. (ard)

Gedung Baru, Sejarah Baru Bagi UNISMA

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir meresmikan Gedung baru Pascasarjana, Kantor Unit Kreatifitas Mahasiswa atau UKM, dan Gedung Halal Center Universitas Islam Malang (UNISMA), pada Rabu, (19/10/2016).

Sejarah baru ini merupakan sebuah kebanggaan bagi civitas akademika Unisma karena keberhasilan telah menyelesaikan gedung baru yang megah setinggi 7 lantai, dan kedepan Unisma akan menjadi kampus yang akan bersaing dengan Perguruan Tinggi di tingkat nasional bahkan internasional.

Acara peresmian diawali dengan penandatanganan prasasti bertempat di depan lokasi gedung baru oleh Menristekdikti, Rektor Unisma Masykuri Bakri, dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Unisma KH. Muhammad Tholhah Hasan yang disaksikan oleh civitas akademika Unisma dan tamu undangan. Acara dilanjutkan dengan peninjauan kedalam gedung baru tersebut oleh Menteri Nasir beserta jajaran.

Pada kesempatan yang sama, tidak jauh dari lokasi sebelumnya, Menteri Nasir juga melakukan peletakkan batu pertama pembangunan Gedung Bundar Al-Asy’ari didampingi Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Intan Ahmad, diikuti Rektor Unisma, Ketua Dewan Pembina Yayasan, dan Civitas Akademika Unisma.

Dalam laporannya, Rektor Unisma Masykuri Bakri mengatakan Gedung Bundar memiliki luas sekitar kurang lebih 9.200 meter persegi dan ditargetkan proses pembangunan gedung selama 2 tahun.

“Dengan bangunan bundar melingkar ini, kedepannya akan dipakai sebagai pusat-pusat kegiatan serbaguna bagi Mahasiswa Unisma,” ucap Rektor Unisma.

Dirinya menambahkan Gedung ini juga bisa dimanfaatkan untuk masa orientasi pada Mahasiswa baru, kegiatan wisuda, dan kegiatan acara lainnya di Unisma.

“Karena pada kegiatan-kegiatan penting seperti itu kita membutuhkan gedung yg bisa menampung kapasitas sekitar 10,000 lebih orang. Dukungan dari seluruh civitas akademika, Mahasiswa, serta khususnya Menristekdikti diharapkan bisa memberi motivasi yang lebih pada kami demi tumbuh dan berkembangnya Unisma,” ujar Masykuri.

Dengan adanya penambahan gedung baru tersebut Unisma, diharapkan bisa lebih berkembang lagi agar tumbuh menjadi universitas yang berkelas dunia. (ard/sts)

PP Iptek Gelar Pesta Sains 2016

Jakarta – Pusat Peragaan Iptek (PP Iptek) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) bersama Institut Français Indonesia (IFI) menggelar Pesta Sains 2016 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta untuk ketiga kalinya pada 18 hingga 29 Oktober 2016. Selain Jakarta, Pesta Sains juga akan diadakan di delapan kota lainnya, yakni Surabaya, Malang, Jombang, Makasar, Yogyakarta, Bandung, Denpasar, dan Medan.

“Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan pengetahuan generasi muda Indonesia saat ini tentang pentingnya nutrisi dan keseimbangannya pada makanan yang setiap hari kita konsumsi, serta masalah pencemaran di dalam makanan,” ujar Ophirtus Sumule, Direktur Sistem Inovasi Kemenristekdikti, pada pembukaan acara Pesta Sains 2016, Rabu (19/10). Ophirtus mengatakan, acara ini sengaja digelar di PP Iptek TMII, karena sebagai Science Center, PP Iptek memiliki fungsi yang strategis dalam menyebarkan dan membudayakan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada seluruh lapisan masyarakat, agar pesan yang disampaikan dan disajikan pada kegiatan ini dapat tersalurkan secara komprehensif.

Rangkaian acara Pesta Sains 2016 yang mengusung tema “Makanan dan Kita” ini terdiri dari seminar, pameran interaktif Bon Appétit persembahan Pusat Budaya Sains Prancis Cité Nature, pameran Tanaman dan Manusia yang digagas oleh lembaga riset Perancis, CIRAD dan IRD, pemutaran film Demain (Tomorrow) yang menjadi box office dan meraih Cesar Award 2016 sebagai film dokumenter terbaik, serta pameran fotografi Eat It! karya seniman Prancis, Enora Lalet.

Melalui berbagai eksperimen, permainan dan aktivitas, Pameran Bon Appétit (Selamat Makan) yang menjadi inti dari edisi tahun ini, mengajak publik untuk mengungkap misteri makanan, mulai dari pengenalan bermacam-macam kelompok makanan, efeknya bagi tubuh manusia, hingga pertanyaan-pertanyaan seputar kesehatan. Pameran ini dibuka untuk kelompok pelajar maupun umum, dimana untuk kelompok pelajar disediakan pemandu.

Sementara itu, pameran fotografi Eat It! menampilkan karya-karya Enora Lalet yang bereksperimen bukan dengan lukisan, cat air, atau pastel, melainkan dengan berbagai makanan. Berkat ketertarikannya dengan Indonesia, perupa kuliner yang telah berkarya di seluruh dunia sepanjang karirnya ini, melakukan residensi seni di kota Batu, Malang, Jawa Timur pada tahun 2014 dan mendapat dukungan dari IFI.

Pada kesempatan tersebut, Konselor Kerja Sama dan Kebudayaan Kedutaan Besar Perancis sekaligus Direktur IFI, Marc Piton turut menjelaskan bahwa dalam konteks internasional yang ditandai dengan kenaikan jumlah penduduk dunia, perubahan iklim dan keinginan untuk mengatasi masalah kesehatan secara lebih baik, pangan menjadi isu ilmiah yang paling utama. Menurutnya, Pesta Sains mendorong pertukaran ide antar kedua negara, khususnya terkait isu pola makan, pertanian berkelanjutan, keanekaragaman hayati, dan kesehatan masyarakat. “Untuk itu, kami mengundang seluruh keluarga Indonesia, pelajar dan mahasiswa, serta publik secara umum, untuk berpartisipasi dalam rangkaian Pesta Sains 2016,” ujarnya. (PSP)

Tak Perlu Minta Ke Orang Tua Lagi

ACEH BESAR – Tak perlu minta uang kuliah pada orang tua lagi. Itu ungkapan pertama yang diucapkan Fadel Ariefa. Fadel merupakan salah satu orang penerima beasiswa bidikmisi dari Universitas Syiahkuala (Unsyiah).

Ditemui dirumahnya yang sederhana di daerah Lam Ujong, Kabupaten Aceh Besar, kamis (20/10), Fadel bercerita mengenai kondisinya dahulu yang sama sekali tidak menyangka akan berkuliah sama sekali karena keterbatasan ekonomi orang tua.

“Dulu sama sekali tidak terpikir untuk kuliah, bahkan Bapak menyuruh saya untuk bantu kerja saja daripada kuliah, karena biaya tidak ada,” ujarnya.

Fadel bercerita bahwa sejak kelas 3 SMP dirinya selalu bekerja membantu Bapaknya untuk mengerjakan kusen dari kayu, karena Bapaknya hanya seorang buruh kusen kayu.

Namun ujarnya, kesempatan untuk kuliah muncul ketika Unsyiah membuka kesempatan melalui bidikmisi lewat jalur SNMPTN. Kini Fadel diterima dan sudah berjalan sampai semester 5 di Fakultas MIPA program studi Teknik Informatika.

“Senang sekali saya dapat berkuliah, biaya kuliah pun tidak memberatkan lagi, terutama untuk orang tua, bidikmisi sudah sangat membantu kami disini,” ucap anak tertua dari 4 bersaudara itu.

Fadel pun punya cita-cita besar setelah kuliahnya selesai nanti. “Saya ingin jadi pengusaha besar di bidang IT. Saya mau ciptakan software-software baru yang berguna bagi masyarakat, terutama masyarakat di Aceh ini,” ucapnya lugas.

Rektor Unsyiah Syamsu Rizal saat ditemui di ruang kerjanya mengatakan, saat ini memang akses untuk bidikmisi dibuka lebih luas lagi sesuai kebijakan dari Kemristekdikti.

“Dalam memberikan akses bagi mahasiswa yang secara ekonomi kurang, kami selalu siap mengakomodir, dan kami ingin anak-anak di Aceh ini semakin maju lagi,” harapnya. (DZI)

Ceko Tawarkan Kerja Sama Riset dan Teknologi

JAKARTA – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir, menerima kunjungan Duta Besar Republik Ceko, Ivan Hot?k, pada hari Selasa (18/10) di Gedung D Kemristekdikti, Senayan, Jakarta. Kunjungan tersebut dimaksudkan untuk membangun hubungan kerja sama terkait riset, teknologi, dan pendidikan tinggi yang lebih erat antara Ceko dan Indonesia.

Dubes Ivan Hot?k menyampaikan bahwa isu utama yang ingin dibangun olehnya dengan Indonesia adalah people-to-people connection, dalam hal ini adalah kerja sama di bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan tinggi.

Ivan menyatakan bahwa sejumlah perguruan tinggi di Ceko siap untuk melaksanakan kerja sama dengan Indonesia. Beliau menginformasikan bahwa perguruan tinggi di Ceko unggul dalam pendidikan medis dan teknik. Ia juga menambahkan bahwa 11 (sebelas) perguruan tinggi di Ceko mampu memberikan kuliah dalam bahasa Inggris.

Mohamad Nasir, yang pada kesempatan itu didampingi oleh Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Intan Ahmad; Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti, Ali Ghufron; serta Kepala Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik, Nada Marsudi, menyambut baik niat Dubes Ceko untuk membangun kerja sama pada bidang tersebut.

Nasir menyampaikan bahwa penting untuk memfokuskan kerja sama pendidikan di bidang STEM (Science, Technology, Engineering and Mathematics). Sedangkan di bidang riset, upaya melakukan hilirisasi hasil riset dari universitas dan lembaga litbang ke sektor industri masih menjadi perhatian utama, oleh karena itu Nasir mengajak Dubes Ceko untuk melakukan kerja sama untuk mengoptimalkan upaya hilirisasi hasil riset.

Baik Menristekdikti maupun Dubes Ceko berharap agar Indonesia dan Ceko dapat segera membuat perjanjian kerja sama di bidang riset, teknologi dan pendidikan tinggi yang akan mendasari kerja sama di antara kedua negara nantinya. (wsn)

Riset dan Inovasi Tidak Terfokus Pada Perguruan Tinggi Saja

BANDUNG – Masih dalam rangkaian Globelics Forum ke-14 yang digelar di Bandung, Kamis (13/10) bertempat di Asia Africa Room Hotel Savoy Homann Bandung, diadakan forum terkait inovasi dengan menghadirkan Dirjen Penguatan Inovasi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Jumain Appe, serta Bengt Ake Lundvall dan Judith Sutz sebagai Globelics Expert. Pertemuan ini juga dihadiri oleh perwakilan dari LPNK Kemenristekdikti dan para pemakalah dari berbagai negara.

Dalam presentasi makalahnya, Jumain Appe memaparkan tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) di lingkungan Kemenristekdikti tahun 2005-2009, tahun 2010-2014, hingga tahun 2025 mendatang.

Menurut Jumain, Kemenristekdikti pada saat ini sedang menyusun rencana induk riset nasional dan semestinya inovasi ini menjadi motor penggerak Research and Development (R&D). “Karena jika berbicara tentang inovasi adalah berbicara tentang industri dan penggunanya,” ujar Jumain.

Jumain juga menambahkan bahwa kita jangan hanya fokus pada universitas, namun kita juga harus melihat pada pembangunan ekonomi yang kemudian didukung oleh inovasi.

Globalics Expert, Bengt Ake Lundvall, juga setuju dengan Jumain. “Riset dan inovasi jangan hanya berfokus pada perguruan tinggi saja, tapi juga bisa lebih menekankan juga terhadap sekolah-sekolah vokasi semisal jika ingin mengembangkan di sektor pertanian, haruslah disampaikan langsung kepada petaninya,” imbuhnya.

Diharapkan perguruan tinggi tidak hanya bekerja secara linear dengan industri, namun juga dapat merangkul masyarakat agar dapat mengetahui apa yang menjadi persoalan-persoalan yang ada di lapangan untuk kemudian dibawa kembali ke perguruan tinggi untuk diperbincangkan. (MR)

1 4 5 6 7 8 14