WEDUPRO- Website Edukasi Professor

PP IPTEK Gelar KRON 2016

JAKARTA – Teknologi robotika telah menjangkau sisi penting pendidikan masyarakat. Sayangnya, perkembangan teknologi robotika di Indonesia dinilai masih sangat minim. Karena itu, Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP IPTEK) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menggelar Kompetisi Robot Nasional (KRON) 2016 di PP IPTEK Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, pada Minggu (16/10).

Kompetisi yang digelar bersama Robotic Organizing Commite Indonesia (ROCI) itu diikuti 550 pelajar (TK, SD, SMP, SMA) dari berbagai daerah dengan memperlombakan 12 kategori . Pemenang dari KRON 2016 akan mewakili  Indonesia dalam ajang Asian Junior Robocup (AJR) 2016 di Malaysia pada 12-14 November 2016 mendatang.

Kompetisi ini diawali dengan acara pembukaan yang dihadiri para pejabat di lingkungan Kemenristekdikti dan pengurus ROCI . Pejabat yang tampak hadir antara lain adalah Direktur Jenderal Penguatan Inovasi (Dirjen PI) Jumain Appe, Direktur Sistem Inovasi Ophirtus Sumule, dan Zulfan Adrinaldi (selaku penyelenggara dari PP IPTEK).

Zulfan Adrinaldi mengatakan, dalam event ini  PP-IPTEK Kemenristekdikti dan ROCI ingin memperkenalkan teknologi robot untuk menambah wawasan generasi muda sejak usia dini.  Selain bertujuan untuk mengasah kemampuan siswa-siswa dalam menghasilkan karya khususnya di bidang teknologi dan robotik, kompetisi ini juga bertujuan untuk melatih siswa dalam berpikir dengan logikanya.

“Dengan demikian diharapkan generasi muda dapat mengikuti perkembangan teknologi robotika karena tidak hanya diasah kreatifitas dan logika saja, melainkan kemampuan teknis, komunikasi dengan seseorang, dan bekerja sama dengan tim,“ jelas Zulfan.

Usai acara pembukaan, para peserta tampak antusias mengikuti kompetisi. Para guru sekolah juga ikut hadir mendampingi siswa-siswi sekolahnya masing-masing.  Kategori yang diperlombakan dalam KRON 2016 antara lain adalah Brick speed, Push Push/Sumo Robot, Animation Robotic, Volley Sport, 2 on 2 Soccer, Maze Solving, Aerial Robot, Robot Creative, Kinder Mission, Robot Theatre, Humanoid, dan Line Racing.

Jenis robot yang ditampilkan dalam kompetisi ini bermacam-macam. Ada robot humanoid, ada robot untuk adu cepat, ada pula robot terbang semacam drone. Untuk robot kreatif terdapat unsur manfaat bagi manusia, antara lain robot untuk penanggulangan banjir maupun robot untuk sistem parkir kendaraan. (SUT)

Masa Depan Semakin Baik dengan Pendidikan Tinggi yang Semakin Baik

SEMARANG – “Selamat datang di kampus Undip tercinta ini,” ucap Ketua Senat menyambut para hadirin pada Peringatan Dies Natalis Universitas Diponegoro (Undip) ke-59 di Gedung Prof. Sudarto pagi tadi, Sabtu (15/10). Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mendampingi Wakil Presiden Republik Indonesia saat menghadiri Acara Puncak Peringatan Dies Natalis tersebut. Acara ini turut dihadiri pula oleh Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Dirjen Belmawa) Kemenristekdikti Intan Ahmad, Wakil Gubernur Jawa Tengah, segenap sivitas akademika serta alumni Undip dan perguruan tinggi di daerah Jawa Tengah.

Mengingat perjalanan panjang dan peran Undip sejak tahun 1957 serta melihat status prestisiusnya sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH), Undip dipercaya memiliki potensi besar menjadi salah satu PT yang dapat menciptakan masa depan lebih baik bagi Indonesia.

“Pendidikan tinggi merupakan garis depan pembangunan suatu bangsa, sehingga sudah selayaknya perkembangannya disesuaikan dengan trend global,” ujar Menteri Nasir.

Untuk itu, Menteri Nasir berharap agar Undip dapat terus membangun sinergitas serta kolaborasi penelitian lintas fakultas dan lintas institusi yang mampu menghasilkan inovasi yang lebih bermanfaat bagi masyarakat.

Daya Saing Bangsa

Tentunya kita berharap bahwa negara kita akan terus maju, sehingga betul-betul bisa masuk ke kategori negara innovation driven seperti yang telah dicapai negara maju. Pada saat itu, peran SDM, ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi sudah sangat dominan dan menjadi tulang punggung daya saing nasional, jelas Nasir.

“Walaupun demikian, kita akui bahwa beberapa Universitas di Indonesia, termasuk Undip telah dapat berkontribusi terhadap daya saing bangsa melalui berbagai kontribusi dan hasil inovasi yang tercipta di kampus,” terang Nasir.

Menteri Nasir berharap Perguruan Tinggi di Indonesia dapat memberikan dampak yang positif terhadap kemajuan kesejahteraan dan sosial ekonomi Indonesia.

Masih mengenai daya saing bangsa, Wakil Presiden (Wapres) RI Jusuf Kalla dalam orasinya meminta Perguruan Tinggi untuk terus berinovasi demi mencapai daya saing bangsa yang lebih baik. “Perguruan tinggi harus memandang ke depan dengan bekerja keras sesuai dinamika yang berkembang,” tegasnya.

Wapres JK menambahkan, daya saing itu seperti pertandingan. “Bagaimana untuk lebih baik, lebih murah, dan lebih cepat. Itulah 3 inti daya saing,” tekan Wapres pada kesempatan tersebut. (FLH)

Globelics Forum ke-14

BANDUNG – Globelics Forum ke-14 kembali diselenggarakan, forum internasional tersebut kali ini dibuka langsung oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Republik Indonesia Mohamad Nasir mewakili Presiden Joko Widodo pada Rabu (12/10) di Gedung Merdeka Bandung. Turut mendampingi, Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad) yang sekaligus menjadi speaker pada acara tersebut, Tri Hanggono Achmad.

Fakultas Hukum Unpad dipercaya sebagai tuan rumah sekaligus penyelenggara Globelics Forum ke-14 ini. Tahun ini, tema yang diusung konferensi internasional tersebut adalah “Innovation, Creativity, and Development: Strategies for inclusiveness and sustainability”. Konferensi yang diikuti oleh 147 akademisi atau pemakalah dari 40 negara ini merupakan sarana bertukar informasi dan pengalaman mengenai berbagai riset. Bukan sekedar temu ilmiah, namun juga sarana untuk memperoleh masukan terhadap inovasi kebijakan di bidang pembangunan ekonomi pada masing-masing Negara.

Konferensi ini akan menggabungkan sidang pleno, presentasi makalah penelitian di trek paralel, sesi panel tematik atau sesi khusus, presentasi poster, sesi buku presentasi, kunjungan dan acara budaya, serta pameran seni dan kuliner.

Dalam kesempatan ini, Tri Hanggono Achmad menceritakan tentang kemajuan Unpad yang pada beberapa pekan terakhir memasuki usia ke-59. Tri juga menjelaskan bahwa konferensi ini mempunyai tujuan utama yaitu memberikan solusi dari kurangnya perhatian terhadap perkembangan pendidikan.

“Kebersamaan kita disini juga adalah hal yg spesial untuk kita. Saya harap kita semua bisa menikmati berjalannya konferensi ini, tak hanya konferensi, kami juga berharap kita menikmati suasana dan tempat ini. Kami selalu percaya bahwa Bandung dibuat dengan cinta dari Tuhan,” ujar Tri.

Menristekdikti dalam sambutannya menjelaskan bahwa forum ini membahas mengenai aturan-aturan inovasi untuk kemajuan Indonesia. Menurutnya, Kemenristekdikti bertugas untuk meningkatkan sains,  teknologi, dan kompetisi inovasi.

“Indonesia juga selalu meningkatkan sistem dan kualitas program beasiswa yg diberikan kepada mahasiswa. Contohnya beasiswa bidikmisi, afirmasi, dan BUDI,” terang Menteri Nasir.

Nasir juga menjelaskan bahwa bidikmisi ditujukan untuk mahasiswa dengan latar belakang ekonomi kurang mampu, beasiswa afirmasi ditujukan untuk siswa yg tinggal di daerah tertinggal, dan BUDI ditujukan untuk dosen-dosen di Indonesia. Semuanya dibentuk agar perkembangan Pendidikan Tinggi dan inovasi semakin maju di tingkat nasional maupun global, tutup Nasir. (MR)

Kemenristekdikti Kirim 13 Tim Immerson Program ke 8 Negara

JAKARTA – Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti)  melaksanakan Launching Immerson Program untuk Riset-Pro (Research And Innovation in Science and Technology Program) komponen 2 di Hotel Century Jakarta, Jumat (14/10). Peluncuran Progam Magang  Riset-Pro  komponen 2 ini ditandai dengan penandatanganan kontrak yang dilakukan oleh Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti (Dirjen SDID) Kemenristekdiki Ali Gufron dengan para peserta magang. Penandatanganan kontrak tersebut disaksikan oleh Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Muhammad Dimyati.

Dalam sambutannya, Muhammad Dimyati mengatakan, pada program magang tahun 2016 ini, Ditjen Penguatan Risbang Kemenristekdikti memberangkatkan 13 tim peserta magang. Ke 13 tim magang itu terbagi dalam 8 bidang fokus Nasional, yaitu Kesehatan, Pangan, material maju, Teknologi Informasi , Energi, Maritim, Mitigasi bencana dan Sosial humaniora. Mereka akan mengikuti magang di 8 negara mitra, yaitu Amerika Serikat, Jerman, Spanyol, Swedia, Australia, Jepang, China, dan India. Para peserta yang diberangkatkan berasal dari 5 LPNK di bawah kemenristekdikti yaitu LIPI, BPPT, BATAN, LAPAN, dan Eijkman. Jangka waktu magang riset adalah 1-3 bulan. Output yang dihasilkan nantinya berupa peningkatan TRL, publikasi internasional bersama dg mitra, peningkatan kerjasama, tersertifikasi, peningkatan paten, sertifikasi internasional.

Dimyati berharap, program magang Riset-Pro ini diharapkan bisa menutup lubang dan mempercepat pertumbuhan riset industri. “Para peserta jangan sekedar melaksanakan magang saja, tapi hendaknya dapat dilaksanakan dengan sepenuh hati agar terjadi transfer knowledge,” jelasnya.

Selama mengikuti program magang, lanjut Dimyati, para peserta bisa melihat ekosistem di tempat mitra luar negeri. Sehingga hasilnya bisa menjadi masukan untuk regulator dalam mempercepat pertumbuhan riset industri di Indonesia. “Output dari kegiatan ini harus menjadi pendukung lahirnya kebijakan-kebijakan yang lebih berpihak pada penguatan riset industri dan inovasi,” tambah Dimyati.

Dalam kesempatan ini, Dirjen SDID Ali Gufron juga memberikan pesan penting kepada para peserta magang. Ali Gufron berharap, para peserta mau mempelajari benar kebijakan dan kinerja peneliti di negara tujuan. Salah satu contohnya di Belgia, ternyata disana dapat dikembangkan beras jenis baru yang diadopsi dari daerah Bantul. “Padahal, warga Belgia tidak mengkonsumsi beras, tapi juga berupaya ingin mengembangkan beras.  Indonesia sendiri, yang makanan pokoknya beras, malah masih mengimpor beras,” papar Ali Gufron.

Ali Gufron juga  berharap, agar para peserta magang mampu menyusun tulisan tentang hasil inovasinya di jurnal-jurnal internasional.  “Ricard, seorang editor jurnal internasional, yang datang ke Indonesia sempat terheran-heran, Indonesia itu kaya, begitu banyak bahan yang dapat ditulis di jurnal internasional.  Tapi hal itu belum banyak yang ditulis di jurnal internasional. Sehingga dunia belum banyak tahu tentang Indonesia,” jelasnya.

Karena itu, Ali Gufron berharap agar para peserta magang juga menyiapkan draft tulisan tentang hasil inovasi para peserta untuk dikirmkan ke jurnal internasional. “Indonesia ini punya potensi. Tapi itu tadi, potensi harus ada aksi. Dan realitas memerlukan kompetensi. Jadi, dalam program magang ini para peserta harus bias meningkatkan kompetensi,” tambah Ali Gufron. (SUT)

Bantuan Biaya Pendidikan Bagi Mahasiswa RI di Turki

Jakarta – Menristekdikti didampingi oleh Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti, Kepala Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik serta Kepala Biro Hukum dan Organisasi menerima kunjungan kehormatan dari Wardana (Dubes RI untuk Turki) dan Dirjen Amerika dan Eropa, Kementerian Luar Negeri di Gedung Kemristekdikti pada Kamis (13/10).

Kunjungan tersebut membicarakan tentang nasib 248 mahasiswa Indonesia penerima beasiswa Pasific Countries Social and Economic Solidarity Association (PASIAD) yang sedang belajar di Turki.

Pasca aksi percobaan kudeta tanggal 15 Juli 2016, Pemerintah Turki menyatakan bahwa PASIAD adalah salah satu organisasi yang memiliki kaitan dengan kelompok Fetullah Terror Organization (FETO) yang dituduh sebagai pelaku kudeta tersebut. Akibatnya Pemerintah Turki tengah intensif melakukan “pembersihan” terhadap orang – orang yang ditenggarai mendukung kelompok FETO. Dampak dari situasi dalam negeri Turki saat ini, donatur yang selama ini memberikan beasiswa kepada mahasiswa tersebut telah menarik diri karena tidak mau mengambil resiko dianggap berhubungan dengan FETO. Hal ini berdampak pada penghentian beasiswa sehingga mengganggu kelangsungan proses belajar mahasiswa Indonesia di Turki.

Wardana mengatakan dari total 248 mahasiswa penerima beasiswa PASIAD, yang terdiri dari beberapa tingkatan semester, 191 orang diantaranya berasal dari keluarga kurang mampu. Bahkan mahasiswa yang tinggal diasrama atau rumah yang berhubungan dengan PASIAD harus segera keluar, jika masih tetap bertahan, konsekuensinya akan terkena operasi pembersihan meskipun tidak terkait. Akibatnya terdapat 55 orang mahasiwa Indonesia yang ditampung di wisma KBRI Ankara.

Pemerintah dalam hal ini Kemenristekdikti dan Kemenlu harus segera membantu para mahasiswa tersebut. Untuk itu, karena kondisi darurat dan mendesak, Kemenlu menggunakan dana perlindungan untuk membantu para mahasiswa selama periode September – Desember 2016. Sementara untuk pemberian bantuan beasiswa untuk tahun 2017 dan seterusnya, sesuai arahan Bapak Wakil Presiden akan dicarikan sumber pembiayaan dari Kemenristekdikti dan Kemenkeu. Menristekdikti mengatakan, “selama tidak melanggar aturan, kami akan membuat skema bantuan untuk menolong para mahasiswa tersebut”. Dana bantuan tersebut bisa diambil dari Kerjasama Negara Berkembang (KNB) atau program Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik). Selanjutnya Wardana mengundang Menristekdikti beserta pejabat pada jajaran terkait untuk datang ke Turki untuk melihat langsung bagaimana nasib dan kondisi mahasiswa Indonesia di Turki. Kemungkinan pada awal Desember pada saat kunjungan Kerja ke Inggris, Menristekdikti beserta delegasi akan menyempatkan waktu untuk berkunjung ke Turki. (nva)

Kemenristekdikti Gelar Diskusi Bersama Ahli Inovasi Denmark

Jakarta – Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi mengadakan diskusi bersama Bengt-Åke Lundvall, profesor dari Universitas Aalborg Denmark yang merupakan penggagas serta pencetus konsep Sistem Inovasi Nasional (SINas). Ilmuwan yang banyak melakukan penelitian terkait sistem inovasi dan ekonomi pembelajaran ini, merupakan pendiri The Global Network for Economics of Learning, Innovation and Competence Building Systems (Globelics), sebuah komunitas ilmuwan dari seluruh dunia yang bekerja membangun inovasi dan kompetensi dalam konteks pembangunan ekonomi. Pada era 1980-an, Lundvall mengembangkan ide inovasi sebagai proses interaktif dan konsep SINas, sementara di era 1990-an, ia mengembangkan gagasan ekonomi pembelajaran.

Diskusi bertema ‘Pengembangan Kapasitas Inovasi dengan Lesson Learned (Drivers and Barriers) di Berbagai Negara’ ini berlangsung di Bandung pada Kamis (13/10). Diskusi ini menjadi salah satu bagian dari The 14th Globelics International Conference, dimana dalam konferensi internasional tersebut, Lundvall bertindak sebagai ketua konferensi. Selain bertujuan untuk mempromosikan penelitian, inovasi dan pengembangan, konferensi ini juga mencoba menawarkan bagaimana keilmuan yang bergantung pada pengetahuan diubah menjadi praktik. Hadir dalam konferensi ini, 147 akademisi dari 40 negara yang memaparkan presentasi dengan tema ‘Inovasi, Kreativitas, Pengembangan: Strategi untuk Keinklusifan dan Keberlanjutan’.

“Inovasi harus ada bisnis modelnya, dan tidak sekadar publikasi saja. Jadi, jangan terlalu mengharapkan pada besarnya institusi pendidikan tinggi, tapi fokus kita untuk mengarahkan pada pembangunan ekonomi di sektor pangan, yang kemudian didukung oleh proses inovasi. Misalnya, sektor pertanian menjadi lebih maju dan menjadi pendukung bagi produksi nasional Indonesia,” demikian dinyatakan Lundvall dalam paparannya, sembari menambahkan bahwa saat ini sektor pertanian di Indonesia, prosesnya masih dilakukan secara konvensional.

Sementara itu, Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, Jumain Appe, pada kesempatan yang sama mengatakan bahwa hasil dari diskusi ini akan bermanfaat bagi peserta dalam menentukan berbagai kebijakan yang mendukung program prioritas  riset dan inovasi. “Hasil yang didapat dari round table discussion dengan Prof. Lundvall tersebut akan dimasukkan bagi kebijakan ekonomi dari masing-masing negara. Korea Selatan misalnya, dalam pengembangan riset sejalan dengan apa dibutuhkan oleh industri.” ujarnya.

Jumain juga mengatakan bahwa di Indonesia, agar inovasi menghasilkan dampak yang nyata bagi perubahan, diperlukan reformasi tata kelola sains, riset dan inovasi, serta kolaborasi yang kuat di antara pemangku kepentingan. Namun ia menyayangkan, tidak ada kesinambungan antara industri dan institusi pendidikan dalam melakukan penelitian dan pengembangan berdasarkan apa yang diperlukan masyarakat. Menurutnya, secara khusus perlu didorong evidence-based policy, agar kebijakan yang diambil didasarkan pada data yang disusun melalui riset. (PSP)

1 5 6 7 8 9 14