WEDUPRO- Website Edukasi Professor

6 Pemenang KRAN 2016 Wakili Indonesia ke Filipina

Jakarta – Sebanyak enam peserta terbaik yang memenangkan Kompetisi Roket Air Nasional (KRAN) 2016 telah terpilih. Keenamnya akan segera mewakili Indonesia dalam ajang tahunan Water Rocket Event (WRE) yang diselenggarakan oleh Asia Pacific Regional Space Agency Forum (APRSAF)  di Manila, Filipina,  pada 12-13 November 2016 mendatang. Kompetisi roket air internasional ini nantinya akan diikuti oleh 18 negara se-Asia Pasifik.

Tampil sebagai juara pertama KRAN 2016 adalah Deshinta Putri Anggraeny, siswi SMP Batik Surakarta. Deshinta mengaku senang  dengan apa yang diraihnya tersebut, terlebih dengan pesaing  yang cukup banyak. Ia juga menambahkan bahwa usai kompetisi ini, akan meningkatkan persiapan agar lebih matang, sehingga dapat berkompetisi dengan lebih baik di ajang Asia Pasifik.

Seperti diketahui, sebanyak 98 peserta yang terdiri dari para pelajar dengan usia 12 sampai 16 tahun dari berbagai wilayah di Indonesia, sebelumnya telah mengikuti seleksi tingkat nasional pada KRAN 2016 di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong, Tangerang Selatan, pada 7-8 Oktober lalu. Kompetisi yang diselenggarakan oleh Pusat Peragaan Iptek (PP Iptek) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) bersama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) ini diarahkan untuk lebih membudayakan iptek di masa depan. Feti Anita, Kepala Sub Divisi Program PP Iptek Kemenristekdikti menuturkan, kompetisi ini bertujuan untuk menumbuhkembangkan minat, kreativitas dan inovasi pelajar Indonesia, khususnya terhadap pengembangan teknologi kedirgantaraan. (Psp)

Berikut, nama-nama pemenang KRAN 2016 yang akan mewakili Indonesia pada kompetisi roket air tingkat internasional di Filipina:
Juara I, Deshinta Putri Anggraeny, SMP Batik Surakarta;
Juara  II, Alifian Pebriansyah, SMK Negeri 4 Pontianak;
Juara  III, Jeremia Aprilianto Maldani, SMA Negeri 1 Sawahlunto Padang;
Harapan I, Shakira Kusuma Narda, SMP Global Mandiri Bogor;
Harapan II, Yuditha Chilva, SMP Negeri 1 Pontianak;
Harapan III, Bayu Dwi Tjahyono, SMP Negeri 5 Kebumen.

Kemenristekdikti Dukung Kemandirian Pengolahan Mineral Dalam Negeri

Jakarta – Sebagai bentuk dukungan terhadap kemandirian pengolahan mineral di dalam negeri, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi memberikan skema pembiayaan insentif inovasi yang diterapkan di industri. Hal ini disampaikan oleh Hanief Arief, Kepala Subdirektorat Industri Bahan Baku dan Material Maju Kemenristekdikti dalam Focus Group Discussion (FGD) Roadmap Produk Inovasi Riset Bahan Baku, yang diselenggarakan oleh Kemenristekdikti bekerjasama dengan Lembaga Teknologi Fakultas Teknik Universitas Indonesia (LEMTEK FTUI) di Engineering Center FTUI, Depok pada Kamis (6/10). Hadir dalam kegiatan ini, wakil dari Kementerian Perindustrian, anggota Dewan Riset Nasional (DRN), peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesai (LIPI), pelaku usaha yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Industri Pengolahan dan Pemurnian Indonesia (AP3I), para inovator smelter Institut Teknologi Sepuluh Novermber (ITS), Universitas Indonesia (UI) dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batu Bara (Tekmira) Kementerian ESDM, serta reviewer insentif inovasi industri.

Meski tidak seluruhnya, beberapa inovasi industri yang tengah mendapatkan skema pembiayaan insentif inovasi dari Direktorat Inovasi Industri, Ditjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, antara lain smelter mini blast furnace yang telah berhasil dibuat oleh Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI, smelter hot blast cupola buatan Balai Penelitian Teknologi Mineral (BPTM) LIPI dimana saat ini sedang dalam proses pengujian, smelter blast furnace kapasitas 10 ton ore yang dibangun oleh ITS, yang mana saat ini ITS tengah mencari partner industri untuk uji produksi secara kontinyu. Ada pula UI yang tengah menyelesaikan smelter submerged furnace pada level TRL 7, dan Tekmira Kementerian ESDM yang telah mendapatkan partner industri untuk menguji rotary kiln guna uji produksi sponge iron.

Dari pertemuan ini, diketahui juga bahwa saat ini Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI tengah berinovasi membuat baja berkekuatan sangat tinggi atau high strength steel dari material tambang berkadar nikel sangat rendah, dimana sumber daya alam ini sangat berlimpah jumlahnya di Indonesia. Menanggapi hal ini, Ketua Komisi Teknis Material Maju DRN, Utama Padmadinata menyatakan bahwa inovasi LIPI dalam membuat baja berkekuatan sangat tinggi ini, merupakan terobosan yang berpotensi mengangkat perekonomian Indonesia secara signifikan.

Sementara itu pada kesempatan yang sama, mewakili Kementerian Perindustrian, Andi Rizaldi, menyambut baik upaya yang dilakukan Kemenristekdikti dalam mendorong lembaga litbang dan perguruan tinggi untuk menampilkan produk teknologi karya bangsa sendiri. Lebih lanjut, reviewer insentif inovasi industri, Idwan Suhardi, menekankan pentingnya Kemenristekdikti, Kementerian Perindustrian, Kementerian ESDM, dan Kementerian BUMN untuk duduk bersama, guna menghasilkan regulasi-regulasi yang memberikan ruang lebih luas bagi para inovator dalam negeri untuk melahirkan berbagai produk teknologi yang berkualitas dan efisien, khususnya yang berkaitan dengan teknologi pengolahan dari hulu ke hilir berbasis mineral logam.

Dalam FGD yang dilaksanakan dalam rangka penyusunan Roadmap Inovasi Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti ini, disinggung pula isu mengenai revisi PP Nomor 1 Tahun 2014 oleh Pemerintah, tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu bara. Revisi yang menjadi perbincangan para peneliti, pelaku industri, birokrat, dan pendidik ini antara lain mengenai ekspor konsentrat yang kembali diizinkan hingga 3 sampai 5 tahun ke depan. Hal yang menjadi fokus kekhawatiran adalah dampak dari pemberian izin tersebut, yang disinyalir akan menurunkan semangat inovasi para teknolog Indonesia yang sedang giat-giatnya mengembangkan smelter atau mesin pengolah dan pemurnian mineral logam skala UKM, untuk mendukung para pemilik Ijin Usaha Pertambangan (IUP) kecil-menengah.

Rubber Air Bag Produksi Dalam Negeri Siap Diuji

Jakarta – Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi, mengadakan kunjungan ke PT Indonesia Marine Shipyard di Gresik dalam rangka persiapan pengujian lapangan produk inovasi rubber air bag pada Selasa (4/10). Menurut rencana, tahap pengujian lapangan akan segera dilaksanakan di perusahaan galangan kapal swasta terbesar di kota Gresik tersebut, yang juga menjadi end user dari produk rubber air bag produksi dalam negeri ini. Pengujian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kekuatan struktur rubber air bag saat digunakan di lingkungan sebenarnya.

Kunjungan persiapan pengujian lapangan yang merupakan bagian dari program Insentif Teknologi dari Kemenristekdikti ini, dilakukan dalam rangka mendorong hilirisasi produk inovasi dalam negeri. Hadir dalam kunjungan tersebut, Santosa Yudo Warsono, Direktur Inovasi Industri, Kemenristekdikti, yang disambut oleh Direktur Utama PT Indonesia Marine Shipyard, Nugroho Basuki, beserta jajarannya. Hadir pula Sofian Lesmanto, Direktur Utama PT Mitra Prima Sentosa sebagai perusahaan penerima insentif dari Kemenristekdikti, dan Mahendra Anggaravidya, peneliti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Rubber air bag sendiri merupakan produk yang digunakan industri perkapalan untuk membantu proses menaikan dan menurunkan kapal di galangan, baik dalam pembangunan kapal baru maupun reparasi kapal bekas. Produk rubber air bag yang selama ini sepenuhnya diimpor dari Tiongkok, rupanya mampu diproduksi oleh industri dalam negeri. PT Mitra Prima Sentosa yang merupakan salah satu perusahaan penerima insentif Kemenristekdikti untuk Tahun Anggaran 2016, bersama BPPT telah melakukan riset pembuatan rubber air bag, dan telah menghasilkan prototype yang siap diuji di lapangan.

Dengan kualitas yang sama dengan produk impor sejenis, kelebihan rubber air bag buatan dalam negeri ini adalah dari segi harganya yang diklaim 30% lebih murah dibandingkan harga impor yang mencapai 80 hingga 150 juta rupiah. Selain itu, karet alam sebagai bahan baku utama dinilai memiliki kelebihan tahan sobek dan tahan gesek. Apabila lolos uji, ke depannya produk ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan rubber air bag dalam negeri khususnya bagi industri perkapalan nasional, sehingga impor tidak perlu lagi dilakukan.

Nasir : Jaga Profesionalitas Lulusan Hukum Perguruan Tinggi

SEMARANG – Perguruan Tinggi merupakan sebuah institusi yang memiliki peran kunci dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia yang bermutu. Upaya meningkatkan kualitas pendidikan hukum di PTN se-Indonesia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN harus menjadi fokus utama.
Hal ini dikarenakan Penegakan hukum adalah dambaan bagi masyarakat, di era reformasi. Tantangan kedepan masalah penegakan hukum bagi penegak hukum dan aparatur pelayanan masalah hukum sangat berat.

Rapat Tahunan Badan Kerja Sama Dekan Fakultas
Hukum Perguruan Tinggi Negeri se- Indonesia dan Direktur Sekolah Tinggi Hukum Militer yang diadakan di Hotel Grand Candi, Semarang Jawa Tengah, Sabtu (8/10), adalah bentuk upaya menjalin kerjasama dan memberi masukan kepada pemerintah terkait isu-isu terkini serta peningkatan pendidikan tinggi hukum itu sendiri.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir yang menjadi Narasumber pada Rapat Tahunan BKS Dekan FH PTN se-Indonesia mengatakan pentingnya menjadi profesional hukum yang dapat melaksanakan tugas profesinya dengan baik untuk melahirkan keadilan di tengah-tengah masyarakat, serta mampu mengindahkan norma-norma dan nilai-nilai sosial kemanusiaan yang berlaku di masyarakat Indonesia.

“Bagi Perguruan Tinggi penyelenggara Pendidikan Tinggi ilmu hukum, yang perlu selalu dikedepankan kepada para mahasiswa dan lulusannya adalah pentingnya etika dan tanggung jawab profesi hukum,” ucap Nasir pada pidatonya yang mengambil tema Kebijakan Kemristekdikti dalam Mendorong Peningkatan Kualitas Pendidikan Hukum.

Menteri Nasir juga menyatakan bahwa perguruan tinggi bukan hanya mencetak sebanyak banyak lulusan saja, akan tetapi juga harus meningkatkan lulusan yang profesional dan mampu bersaing. Selain itu menristek mengapreasi atas terselenggaranya acara ini dan berharap dapat terus menunjukkan kemampuannya untuk saling bersinergi demi meraih progres yang baik bagi pengembangan dunia pendidikan, khususnya dibidang hukum.

“Saya juga mengimbau kepada semua agar terus mampu menumbuhkembangkan semangat kerjasama dan sinergisitas, agar tercipta karya-karya ilmiah penelitan, dan inovasi berkualitas tinggi bertaraf internasional, serta terbentuk SDM-SDM berkualitas yang juga mampu beradaptasi pada perubahan global dan bersaing menghadapi MEA,” tutur Nasir.

Dalam kesempatan yang sama di acara Dekan Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip) Benny Riyanto menyampaikan ada beberapa target dari pertemuan yang juga dihadiri oleh para Dekan dan Wakil Dekan, serta Ketua program studi dari FH PTN se-Indonesia ini. Di antaranya adalah penguatan kurikulum pendidikan hukum hingga penguatan BKS Dekan FH PTN se-Indonesia agar lebih kuat dalam memberikan masukan ke Pemerintah.

Pada acara ini hadir juga Rektor Undip Yos Johan Utama; Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) Fathur Rokhman; beserta Para Wakil Rektor serta Ketua Badan Koordinasi Dekan FH PTN se-Indonesia, Runtung. (Ard)

Akademi Komunitas Menjadi Solusi Ciptakan Tenaga Kerja

BALEKAMBANG – Munculnya Akademi Komunitas di beberapa daerah merupakan hal baik dalam perkembangan pendidikan tinggi, setidaknya dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat yang ingin mendapatkan pengetahuan dan keterampilan lebih dari SMA/SMK yang diharapkan benar-benar mampu untuk memiliki keahlian yang khusus dalam rangka terjun ke dunia kerja.

Menurut UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, Akademi Komunitas merupakan Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi setingkat diploma satu (D1) atau diploma dua (D2) dalam satu atau beberapa cabang ilmu pengetahuan atau teknologi tertentu yang berbasis keunggulan lokal atau untuk memenuhi kebutuhan khusus.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir, berkesempatan untuk menghadiri wisuda perdana Akademi Komunitas Balekambang (AKB), di Pondok Pesantren Roudlotul Mubtadiin Balekambang, Nalumsari Jepara, Jawa Tengah, pada Sabtu (8/10).

Pada sambutannya, Menristekdikti memberikan apresiasi atas kinerja AKB yang mampu menciptakan lulusan perdananya yang diharapkan kedepan akan mampu bersaing dalam menghadapi MEA.

“Saya mengucapkan selamat kepada para wisudawan atas keberhasilan saudara-saudara dalam menyelesaikan studi di AKB. Saya mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh civitas akademika AKB atas kerja keras dan pengabdian dalam mendidik mahasiswa sehingga berhasil menyelesaikan studinya, dan dapat diwisuda pada hari ini,” ujar Nasir.

Menteri Nasir menambahkan Akademi Komunitas (AK) menjadi salah satu solusi dalam meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dalam usia yang termasuk usia angkatan kerja.

“Sekarang di usia 16 tahun sudah dikategorikan usia angkatan kerja, dengan AK ini dapat menjadi solusi untuk menciptakan dan memanfaatkan sebanyak-banyaknya sumberdaya manusia di usia 16 tahun yang sudah siap untuk menjadi tenaga kerja sesuai dengan bidang yang dipilih,” kata Nasir.

Direktur Akademi Komunitas Balekambang (AKB), Miftahudin, yang melakukan wisuda kepada 22 orang wisudawan yang berasal dari dua jurusan yaitu Teknik Komputer dan Jaringan serta Teknik Elektronika, menyampaikan ucapan selamat kepada wisudawan dan menjelaskan bahwa Akademi Komunitas Balekambang berbeda dengan Akademi Komunitas yang lainnya.

“Mengapa AKB berbeda dengan AK yang lain, karena salah satunya adalah seluruh mahasiswa berada di pesantren. Selain itu mereka juga dituntut untuk bisa memahami Kitab Kuning,” ucapnya.

Dirinya juga mempunyai harapan besar, bahwa nantinya Akademi Komunitas Balekambang, kedepan akan menjadi Perguruan Tinggi Balekambang yang berbasis pondok pesantren yang terbesar di Asia Tenggara. Ia menargetkan juga pada tahun 2017 dapat dibangun Sekolah Tinggi Balekambang serta tahun 2020 akan dibangun Universitas Balekambang. (Ard)

Ribuan Pelajar Indonesia Hadiri WEEI 2016

JAKARTA – Ribuan pelajar memadati arena World Education Expo Indonesia (WEEI) yang diselenggarakan oleh Agora Exihibitions Indonesia dan MSW Global di Balai Kartini Jakarta pada 8–9 Oktober 2016. Pameran pendidikan internasional ke-5 tersebut digelar dengan cara roadshow di tiga kota besar lain, yakni Bandung (7 Oktober 2016), Medan (10 Oktober 2016) dan Surabaya (12 Oktober 2016).

Pembukaan WEEI 2016 di Jakarta diawali dengan acara Teachers Gathering yang menampilkan para pembicara dari institusi Pendidikan Tinggi berbagai negara, baik dari Asia, Eropa maupun Amerika. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, yang diwakili Kepala Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik Nada Marsudi, juga diundang tampil sebagai pembicara. Dalam kesempatan tersebut, Nada Marsudi memaparkan tentang perkembangan pendidikan tinggi Indonesia dan kebijakan Kemenristekdikti.

Acara Teachers Gathering ini dimanfaatkan para penyelenggara Pendidikan Tinggi dari berbagai Negara untuk mempromosikan keunggulan pendidikan di Negaranya masing-masing. Dalam acara dialog, perwakilan Pendidikan Tinggi dari Malaysia sempat mengungkapkan kebanggaannya karena lulusan Universitas dari Malaysia kini ada yang menjabat sebagai Menteri yaitu Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir.

Operations Director PT. MSW Global, Anastasya Sri, mengatakan, tujuan pameran pendidikan internasional ke-5 tersebut untuk memberikan informasi tentang Pendidikan Tinggi di tingkat global kepada para pelajar Indonesia yang hendak melanjutkan studi keluar negeri. Pada WEEI 2016 kali ini, pihaknya menghadirkan perwakilan Universitas dari berbagai Negara. “Partisipasi yang mengikuti WEEI 2016 lebih dari 100 exhibitor,” jelas Anastasya.

Dari pengalaman WEEI tahun-tahun sebelumnya, tambah Anastasya Sri, para pelajar Indonesia yang melanjutkan studi keluar negeri, kebanyakan berminat menempuh studi bidang ekonomi. “Para pelajar Indonesia tampaknya banyak yang ingin menjadi pebisnis,” ujarnya.

Dalam kegiatan WEEI 2016 tersebut juga digelar Business Plan Competition dan Talent Competition yang diikuti para pelajar Indonesia dari berbagai kota. (SUT)

1 7 8 9 10 11 14